Para Mahasiswa Indonesia di Thailand yang Jadi Bandit

Belajar Thainglish, Bahasa Inggris yang Benar Jadi Salah

Thailand kini mulai menjadi salah satu negara jujukan studi mahasiswa Indonesia. Paling tidak, itu yang dilihat wartawan Jawa Pos AGUNG PUTU ISKANDAR yang pekan lalu meliput aksi demo kelompok Kaus Merah di Thailand.

MAHASISWA Indonesia yang kuliah di Thailand ternyata banyak yang menjadi ”bandit”. Ya, menjadi bandit. Bahkan, mereka sebagian besar malah menjadi mahabandit. Lebih tinggi daripada sekadar bandit.

Tapi, bandit di Thailand bukan berarti maling atau tukang jambret di jalanan. Dalam bahasa Thai, bachelor disebut bandit, master disebut mahabandit, dan doctor disebut dusadee bandit.

”Dalam bahasa Thai, bandit itu semacam tokoh intelektual. Kadang itu juga sebutan untuk pemikir yang memiliki pengaruh besar di masyarakat,” kata Bekti Nusantara, guru kimia yang mengajar di Sekolah Indonesia Bangkok pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok.

Thailand memang bukan menjadi pilihan utama kuliah di luar negeri bagi sebagian besar mahasiswa Indonesia. Orang Indonesia kebanyakan lebih sreg kuliah di Jepang, Australia, Singapura, Prancis, Inggris, atau Amerika. ”Katanya, kurang keren kuliah di sini,” ujar Tunggul Adi Purwonugroho, mahasiswa S-2 Jurusan Farmasi, Mahidol University, Bangkok.

Dia tinggal di Athens Apartement, Jalan Petchburi Road, Bangkok. Apartemen yang berada di Soi (Gang) 11 itu memang kebanyakan diisi warga Indonesia. Paling tidak, lebih dari sepuluh mahasiswa tinggal di apartemen tersebut. Kata Tunggul, apartemen itu cukup strategis. Dekat dengan pusat kota dan hanya beberapa meter dari KBRI.

Thailand memang telanjur lekat dengan dunia pariwisata dan kuliner. Akibatnya, citra pendidikan negeri kerajaan itu belum banyak yang mengetahui. ”Padahal, peluang kuliah di sini terbuka lebar,” kata Tunggul yang kemudian memboyong istrinya, Binar Asrining Dhiani, ke Thailand. Kebetulan, Binar kini kuliah S-2 kedokteran di Mahidol University.

Berdasar data dari Times Higher Education (THE) QS University Ranking 2008, empat universitas Thailand masuk daftar 100 kampus terbaik di Asia. Yakni, Mahidol University, Chulalongkorn University, Chiang Mai University, dan Thammasat University. Bahkan, Chulalongkorn University masuk daftar 200 kampus terbaik di dunia.

Data ranking kampus se-Asia Tenggara yang dirilis webometrics.info lebih mencengangkan lagi. Kampus-kampus Thailand hanya kalah satu setrip oleh National University of Singapore (NUS). Peringkat kedua hingga kelima dikuasai empat kampus terbaik di Thailand. Yakni, Kasetsart, Prince of Songkla, Mahidol, dan Chulalongkorn. Kampus Indonesia baru muncul di peringkat kedelapan, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.

Per tahun sedikitnya 300 mahasiswa Indonesia menempuh studi di Thailand. Umumnya mengikuti program mahabandit alias S-2. ”Sangat jarang yang mengambil S-1, kecuali anak-anak ekspatriat asal Indonesia yang bekerja di sini atau anak staf KBRI. Itu pun sangat jarang,” kata Tunggul yang juga anggota perhimpunan mahasiswa Indonesia Thailand (Permitha) itu.

Mahasiswa Indonesia di Thailand, menurut Tunggul, umumnya mendapat pembiayaan dari beasiswa. Sangat jarang yang biaya sendiri. Mereka biasanya mendapatkan beasiswa dari Dirjen Pendidikan Tinggi (dikti), dari pemerintah Jepang, pemerintah Thailand, dan kerja sama antarkampus Indonesia-Thailand.

Mereka tersebar di berbagai kampus di Negeri Gajah itu. Mahasiswa yang studi di bidang medis dan kedokteran biasanya kuliah di Mahidol University. Sedangkan yang mengambil jurusan teknik kuliah di Chulalongkorn University atau The Asian Institute of Technology (AIT). Sementara itu, mahasiswa yang mengambil studi bidang peternakan dan perikanan kebanyakan masuk Kasetsart University.

Alumnus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu menuturkan, prospek kuliah di Thailand sangat bagus. Sebab, tak banyak saingan untuk mendapatkan beasiswa dari lembaga-lembaga pemberi beasiswa. ”Saingan tetap ada, tapi tidak sebanyak beasiswa kuliah di Eropa dan Amerika,” kata Tunggul.

Selain itu, Thailand memiliki kedekatan penerapan teknologi dengan Indonesia. Artinya, kalau para bandit pulang ke Indonesia, mereka bisa menerapkan ilmu teknologi yang diperoleh di Thailand. Itu jelas berbeda dengan mahasiswa yang kuliah di Eropa. Jarak teknologi mereka dengan Indonesia cukup jauh. Alhasil, begitu pulang ke tanah air, infrastruktur untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di Eropa belum tersedia. ”Itu yang bikin susah,” katanya.

Menurut Tunggul, kuliah di Thailand relatif lebih murah biaya hidupnya. Harga makanan tak terlalu berbeda dengan di Jakarta. Hanya, orang Indonesia perlu beradaptasi terlebih dahulu dengan jenis makanan khas Thailand. Sebab, warga Thailand kebanyakan suka menggunakan bahan makanan seperti lada, jahe, dan merica. Selain itu, mereka juga kerap mencampur makanan dengan binatang-binatang yang tak lazim dimakan di Indonesia. Misalnya, kalajengking, serangga, ketam (kepiting sungai), dan beberapa jenis serangga.

Hambatan yang lain, kata Tunggul, soal bahasa komunikasi. Bahasa Thailand termasuk sangat sulit. Selain punya aksara sendiri, bahasa Thai memiliki 44 huruf konsonan, 22 huruf vokal, plus lima intonasi. Yakni, datar, sedang, tinggi, rendah, dan sangat tinggi. ”Itu yang bikin susah kalau mau belajar bahasa Thai,” katanya.

Mau tidak mau, mahasiswa Indonesia harus menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan warga Thailand. Meskipun, bahasa Inggris yang diucapkan warga Thailand banyak yang susah dipahami. Mereka sering melafalkan huruf R dengan L. Kata room for rent menjadi loom fol lent. Kemudian, V dengan W. Misalnya, Suvarnabhumi menjadi Suwarnphoom. Selain itu, orang Thailand tidak terbiasa mengucapkan dua atau tiga huruf mati bersambung. Misalnya, dalam kata school. Itu akan menjadi sechool atau sechoon.

Selain itu, kata Tunggul, akhiran l atau le dalam bahasa Thai akan berubah menjadi n atau eo. Itu terjadi pada kata cable akan menjadi caben. Kata triple bisa diucapkan thipen. Kalimat ring the bell akan diucapkan ling the beo. Original menjadi originon. Control menjadi conton. Nama Universitas Mahidol bisa jadi Mahidon Uniwesity.

Menurut Tunggul, sering terjadi banyak kesalahpahaman saat berbincang dengan masyarakat Thai. Modal bahasa Inggris yang benar saja tidak cukup. ”Sering kita sudah ngomong benar, tapi malah salah. Jadinya, ya ikut bagaimana mereka ngomong saja,” katanya.

Kenyamanan kuliah yang lain di Thailand adalah jaminan kesehatan. Fasilitas kesehatan di negeri Raja Bhumibol Adulyadej itu sangat murah, apalagi untuk warga miskin. Istri Tunggul pernah menjalani operasi caesar, tarifnya cuma 12 ribu baht atau sekitar Rp 3,6 juta. ”Padahal, saya warga asing. Di Indonesia, paling tidak bisa kena Rp 6 juta hingga Rp 7 juta,” tandas dia. (*/c4/ari)

Satu Tanggapan to “Para Mahasiswa Indonesia di Thailand yang Jadi Bandit”

  1. Selamat berbandit ria….

    Silahkan kunjungi web kami http://repository.unand.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: