detik-detik terakhir   SADAM HUSAIN Robohnya Negeri 1001 Malam
Inilah buku yang memotret sebuah perang paling berdarah –sekaligus menyita perhatian manusia di kolong langit– di ufuk milenium baru. Dua jurnalis MBM Tempo, Rommy Fibri dan Ahmad Taufik memburu segepok peristiwa yang mengiringi kejatuhan Rezim Saddam Husein dan luluh lantaknya tanah Irak selepas diinvasi Amerika Serikat dan sekutunya. Kedua jurnalis itu membuat reportase basah, di mana detail peristiwa dirawat bak menimang bayi dan jalinan peristiwa diudar dengan perspektif kuat bertopang sejarah.

Saking basahnya, pembaca terkadang seperti melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa yang diceritakan dalam buku ini. Dibuka dengan reportase ihwal robohnya patung Saddam dan dipungkasi prosesi serta kronologi eksekusi terhadap Saddam, buku ini menyingkap nyaris utuh potret konflik Irak sekaligus kehidupan sosial di negeri yang dikoyak desing peluru tersebut.

Perang Irak atau lebih tepatnya penaklukkan Irak dapat dikatakan sebagai kemenangan absurditas yang mendompleng pada kecintaan pada martabat kemanusiaan. Dengan alasan absurd, hingga kini belum terbukti bahwa Irak memiliki senjata pemusnah masal, AS jumawa menerjunkan bala tentara untuk membungkam kekuasaan Saddam yang tak tergoyahkan selama hampir 2,5 dekade. Rezim otoriter yang berdiri di jantung Arab itu memang limbung, tapi bukan tertib yang didekap. Negeri seribu satu malam ini justru terbenam pada konflik internal yang menghadap-hadapkan kelompok Sunni dan Syiah untuk mengangkat senjata!

Momen yang paling liris, tatkala Rommy Fibri menceritakan kejatuhan Irak yang disimbolisasi dengan robohnya patung Saddam Hussein di perempatan Firdaws, Bagdad, 9 April 2003. Saat itu pasukan AS merangsek ke Bagdad dari segala penjuru. Sore hari pasukan AS sudah menguasai kota, tepatnya di Firdaws Square, jantung Bagdad. Puluhan mujahidin (milisi), pertahanan terakhir setelah Garda Republik, sudah menanggalkan senjata, tanda menyerah.

Tentara Amerika masuk Bagdad seperti pahlawan. Penduduk mengelu-elukannya serasa menghirup kebebasan. Patung Saddam di tengah kota hendak dirobohkan, tapi tangan kosong jelas tak mampu. Terpaksa, hanya untuk merobohkan patung Saddam, tentara Amerika harus turun tangan. Dengan sebuah tali yang diikatkan pada leher dan ditarik dengan kendaraan lapis baja armored personal carrier (APC), patung itu roboh. Ironis!

Dan, dengan masygul, Rommy –jurnalis Indonesia yang pertama masuk Irak pada 2003– menulis: Saya tak tahu bagaimana perasaan saya saat itu, karena saya yakin ”bulan madu” ini hanya berusia sementara. Kelak, penduduk Bagdad akan menyadari apa artinya ”diduduki Amerika”, meski saat ini mereka tengah merasa ”terbebas dari Saddam” (hlm. 7).

Kemasygulan yang terbukti belakangan. Bahkan, hingga kini Amerika masih betah dan berencana memarkir pasukannya di Irak hingga 2011. Rencana yang memicu puluhan ribu penduduk Bagdad –sebagian besar pendukung ulama Muqtada Sadr– berdemo (18/10/2008) meminta Amerika hengkang dari Irak.

Di negeri Muslim seperti Indonesia, Saddam menonjol sebagai ikon perlawanan terhadap Barat, wabil khusus Amerika Serikat. Namun, dua jurnalis yang berpengalaman meliput di daerah konflik ini tak hendak menajamkan pandangan yang melupakan sosok utuh dari seorang Saddam, termasuk sisi gelapnya yang kurang digali. Maka, Rommy Fibri pergi ke Irak Utara hingga menyentuh Halabja. Di sinilah, monumen keberingasan rezim Saddam dapat disaksikan. Semasa berkuasa, rezim Saddam menumpas orang Kurdi menggunakan senjata kimia seperti bom napalm. Ini karena rezim Saddam yang ditopang Partai Baath kehilangan akal melawan para gerilyawan Kurdi yang militan.

Selidik punya selidik, ternyata militansi suku Kurdi itu tak lepas dari hasil tempaan alam yang keras. Maklum, tanah yang mereka diami membentang dari jajaran Pegunungan Zagros, Taurus, Pontus, hingga Amanus. Dikejar-kejar terus oleh penguasa politik di Bagdad, orang Kurdi tumbuh menjadi nomaden yang tangguh dan sanggup bertahan di daerah-daerah sulit (hlm. 97-98). Bayangkan saja, seorang Kurdi bernama Shinroe Damarkhan di usia 70 tahun masih bisa naik turun gunung dikawani 20-an ekor biri-biri seharian dengan hanya makan daun-daunan. Dari posisi selalu dikejar-kejar, kini suku Kurdi menapak ke pucuk kekuasaan Irak tatkala Jalal Talabani terpilih sebagai Presiden Irak pada awal 2005.

Reportase ini dilakukan Rommy dengan mengumpulkan keping demi keping fakta dari sumber primer, meskipun tak melupakan warga biasa secara selektif. Alhasil, kita bisa mendapatkan laporan yang kaya perspektif dan hidup. Dan, ini dia lakukan pula ketika berkunjung ke Najaf, Kufah, dan Karbala –sebuah lokasi yang selalu mengingatkan orang Syiah ihwal tragedi berdarah 1.300 tahun silam. Syiah yang digencet habis-habisan di masa Saddam, sekarang muncul sebagai salah satu kekuatan utama dalam politik Irak.

Sedangkan Ahmad Taufik mengudar Irak yang tengah menggelarpemilu –proses politik yang menentukan Irak saat ini. Dari perhelatan ini, bisa disaksikan bahwa warga Irak tergolong antusias menyalurkan hak politiknya, terbukti pada pemilu pertama pasca-Saddam ini, 72 persen warga mengikuti pemungutan suara. Dan, sontak bandul politik Irak beralih ke partai beraliran Syiah di bawah pengaruh ulama kharismatik, Ayatullah Ali al-Sistani. Kurdi pun menjulang, melampaui Partai Sunni. Sebuah reposisi yang kelewat biasa, tatkala penguasa lama tumbang, maka partai penerusnya atau sehaluan kerap diacuhkan oleh rakyat. Dalam kacamata positif, pemilu ini menyumbang bagi tumbuhnya tradisi baru akan medan perebutan kekuasaan yang lebih terkelola, rutin, dan nirkekerasan.

Di bagian akhir, diungkapkan perjalanan Saddam Hussein dari pengadilan hingga eksekusi mati. Inilah kisah yang paling memilukan dari seorang pria Tikrit berhati singa. Saddam yang begitu super sejak muda, harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan pada 30 Desember 2006. Sejumlah versi menyatakan, Saddam menjemput ajalnya dengan gagah berani. Setidaknya itu kesan yang tertangkap kala jaringan televisi CNN dan BBC menyiarkan, sebelum tewas di tiang gantungan, Saddam mengatakan, ”Inilah akhir hidupku. Aku mengawali hidupku sebagai pejuang, karena itu kematian tak menakutkanku” (hlm. 178).

Buku ini akan menambah perbendaharaan kita untuk memahami sepotong sejarah Irak antara 2003-2005. Tapi, ada dua kekurangan buku ini. Pertama, kedua jurnalis itu tampak tidak terlalu bernafsu untuk menguliti dampak perang terhadap kehidupan warga sipil –mereka yang selalu menjadi pihak pertama yang dikalahkan oleh sebuah pergolakan politik dan peperangan. Memang ada dua bab, yakni ”Serangan dan Korban” serta ”Kesaksian dari Hotel Palestine” yang berupaya menceritakan runyamnya warga sipil, termasuk jurnalis yang terhimpit di medan perang. Namun, dua bab ini tak sanggup meyakinkan saya ihwal kengerian dan dampak merusak dari sebuah peperangan yang menewaskan jutaan warga sipil Irak.

Kedua, buku ini diterbitkan 3-5 tahun setelah peristiwa atau reportase dilakukan. Akan sangat orisinil jika buku ini diterbitkan tak terlalu jauh dari saat reportase, sehingga seluruh fakta yang diungkap dan analisis tidak jatuh menjadi justifikasi. Kemasygulan Rommy Fibri, misalnya, ketika menyindir perilaku penduduk Bagdad saat merobohkan patung Saddam (2003) akan lebih mengena ketika dituliskan pada tahun itu juga. Namun, tak apalah, karena pembaca terpuaskan dengan ragam cerita yang menopang buku ini.(*)

Moh Samsul Arifin, anggota Klub Buku dan Film SCTV

Judul Buku: Detik-Detik Terakhir Saddam

Penulis: Rommy Fibri dan Ahmad Taufik

Penerbit: Pusat Data dan Analisa TEMPO, Jakarta

Cetakan: I, 2008

Tebal: xii + 191 HalamanSADAM HUSAIN Robohnya Negeri 1001 Malam
Inilah buku yang memotret sebuah perang paling berdarah –sekaligus menyita perhatian manusia di kolong langit– di ufuk milenium baru. Dua jurnalis MBM Tempo, Rommy Fibri dan Ahmad Taufik memburu segepok peristiwa yang mengiringi kejatuhan Rezim Saddam Husein dan luluh lantaknya tanah Irak selepas diinvasi Amerika Serikat dan sekutunya. Kedua jurnalis itu membuat reportase basah, di mana detail peristiwa dirawat bak menimang bayi dan jalinan peristiwa diudar dengan perspektif kuat bertopang sejarah.

Saking basahnya, pembaca terkadang seperti melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa yang diceritakan dalam buku ini. Dibuka dengan reportase ihwal robohnya patung Saddam dan dipungkasi prosesi serta kronologi eksekusi terhadap Saddam, buku ini menyingkap nyaris utuh potret konflik Irak sekaligus kehidupan sosial di negeri yang dikoyak desing peluru tersebut.

Perang Irak atau lebih tepatnya penaklukkan Irak dapat dikatakan sebagai kemenangan absurditas yang mendompleng pada kecintaan pada martabat kemanusiaan. Dengan alasan absurd, hingga kini belum terbukti bahwa Irak memiliki senjata pemusnah masal, AS jumawa menerjunkan bala tentara untuk membungkam kekuasaan Saddam yang tak tergoyahkan selama hampir 2,5 dekade. Rezim otoriter yang berdiri di jantung Arab itu memang limbung, tapi bukan tertib yang didekap. Negeri seribu satu malam ini justru terbenam pada konflik internal yang menghadap-hadapkan kelompok Sunni dan Syiah untuk mengangkat senjata!

Momen yang paling liris, tatkala Rommy Fibri menceritakan kejatuhan Irak yang disimbolisasi dengan robohnya patung Saddam Hussein di perempatan Firdaws, Bagdad, 9 April 2003. Saat itu pasukan AS merangsek ke Bagdad dari segala penjuru. Sore hari pasukan AS sudah menguasai kota, tepatnya di Firdaws Square, jantung Bagdad. Puluhan mujahidin (milisi), pertahanan terakhir setelah Garda Republik, sudah menanggalkan senjata, tanda menyerah.

Tentara Amerika masuk Bagdad seperti pahlawan. Penduduk mengelu-elukannya serasa menghirup kebebasan. Patung Saddam di tengah kota hendak dirobohkan, tapi tangan kosong jelas tak mampu. Terpaksa, hanya untuk merobohkan patung Saddam, tentara Amerika harus turun tangan. Dengan sebuah tali yang diikatkan pada leher dan ditarik dengan kendaraan lapis baja armored personal carrier (APC), patung itu roboh. Ironis!

Dan, dengan masygul, Rommy –jurnalis Indonesia yang pertama masuk Irak pada 2003– menulis: Saya tak tahu bagaimana perasaan saya saat itu, karena saya yakin ”bulan madu” ini hanya berusia sementara. Kelak, penduduk Bagdad akan menyadari apa artinya ”diduduki Amerika”, meski saat ini mereka tengah merasa ”terbebas dari Saddam” (hlm. 7).

Kemasygulan yang terbukti belakangan. Bahkan, hingga kini Amerika masih betah dan berencana memarkir pasukannya di Irak hingga 2011. Rencana yang memicu puluhan ribu penduduk Bagdad –sebagian besar pendukung ulama Muqtada Sadr– berdemo (18/10/2008) meminta Amerika hengkang dari Irak.

Di negeri Muslim seperti Indonesia, Saddam menonjol sebagai ikon perlawanan terhadap Barat, wabil khusus Amerika Serikat. Namun, dua jurnalis yang berpengalaman meliput di daerah konflik ini tak hendak menajamkan pandangan yang melupakan sosok utuh dari seorang Saddam, termasuk sisi gelapnya yang kurang digali. Maka, Rommy Fibri pergi ke Irak Utara hingga menyentuh Halabja. Di sinilah, monumen keberingasan rezim Saddam dapat disaksikan. Semasa berkuasa, rezim Saddam menumpas orang Kurdi menggunakan senjata kimia seperti bom napalm. Ini karena rezim Saddam yang ditopang Partai Baath kehilangan akal melawan para gerilyawan Kurdi yang militan.

Selidik punya selidik, ternyata militansi suku Kurdi itu tak lepas dari hasil tempaan alam yang keras. Maklum, tanah yang mereka diami membentang dari jajaran Pegunungan Zagros, Taurus, Pontus, hingga Amanus. Dikejar-kejar terus oleh penguasa politik di Bagdad, orang Kurdi tumbuh menjadi nomaden yang tangguh dan sanggup bertahan di daerah-daerah sulit (hlm. 97-98). Bayangkan saja, seorang Kurdi bernama Shinroe Damarkhan di usia 70 tahun masih bisa naik turun gunung dikawani 20-an ekor biri-biri seharian dengan hanya makan daun-daunan. Dari posisi selalu dikejar-kejar, kini suku Kurdi menapak ke pucuk kekuasaan Irak tatkala Jalal Talabani terpilih sebagai Presiden Irak pada awal 2005.

Reportase ini dilakukan Rommy dengan mengumpulkan keping demi keping fakta dari sumber primer, meskipun tak melupakan warga biasa secara selektif. Alhasil, kita bisa mendapatkan laporan yang kaya perspektif dan hidup. Dan, ini dia lakukan pula ketika berkunjung ke Najaf, Kufah, dan Karbala –sebuah lokasi yang selalu mengingatkan orang Syiah ihwal tragedi berdarah 1.300 tahun silam. Syiah yang digencet habis-habisan di masa Saddam, sekarang muncul sebagai salah satu kekuatan utama dalam politik Irak.

Sedangkan Ahmad Taufik mengudar Irak yang tengah menggelarpemilu –proses politik yang menentukan Irak saat ini. Dari perhelatan ini, bisa disaksikan bahwa warga Irak tergolong antusias menyalurkan hak politiknya, terbukti pada pemilu pertama pasca-Saddam ini, 72 persen warga mengikuti pemungutan suara. Dan, sontak bandul politik Irak beralih ke partai beraliran Syiah di bawah pengaruh ulama kharismatik, Ayatullah Ali al-Sistani. Kurdi pun menjulang, melampaui Partai Sunni. Sebuah reposisi yang kelewat biasa, tatkala penguasa lama tumbang, maka partai penerusnya atau sehaluan kerap diacuhkan oleh rakyat. Dalam kacamata positif, pemilu ini menyumbang bagi tumbuhnya tradisi baru akan medan perebutan kekuasaan yang lebih terkelola, rutin, dan nirkekerasan.

Di bagian akhir, diungkapkan perjalanan Saddam Hussein dari pengadilan hingga eksekusi mati. Inilah kisah yang paling memilukan dari seorang pria Tikrit berhati singa. Saddam yang begitu super sejak muda, harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan pada 30 Desember 2006. Sejumlah versi menyatakan, Saddam menjemput ajalnya dengan gagah berani. Setidaknya itu kesan yang tertangkap kala jaringan televisi CNN dan BBC menyiarkan, sebelum tewas di tiang gantungan, Saddam mengatakan, ”Inilah akhir hidupku. Aku mengawali hidupku sebagai pejuang, karena itu kematian tak menakutkanku” (hlm. 178).

Buku ini akan menambah perbendaharaan kita untuk memahami sepotong sejarah Irak antara 2003-2005. Tapi, ada dua kekurangan buku ini. Pertama, kedua jurnalis itu tampak tidak terlalu bernafsu untuk menguliti dampak perang terhadap kehidupan warga sipil –mereka yang selalu menjadi pihak pertama yang dikalahkan oleh sebuah pergolakan politik dan peperangan. Memang ada dua bab, yakni ”Serangan dan Korban” serta ”Kesaksian dari Hotel Palestine” yang berupaya menceritakan runyamnya warga sipil, termasuk jurnalis yang terhimpit di medan perang. Namun, dua bab ini tak sanggup meyakinkan saya ihwal kengerian dan dampak merusak dari sebuah peperangan yang menewaskan jutaan warga sipil Irak.

Kedua, buku ini diterbitkan 3-5 tahun setelah peristiwa atau reportase dilakukan. Akan sangat orisinil jika buku ini diterbitkan tak terlalu jauh dari saat reportase, sehingga seluruh fakta yang diungkap dan analisis tidak jatuh menjadi justifikasi. Kemasygulan Rommy Fibri, misalnya, ketika menyindir perilaku penduduk Bagdad saat merobohkan patung Saddam (2003) akan lebih mengena ketika dituliskan pada tahun itu juga. Namun, tak apalah, karena pembaca terpuaskan dengan ragam cerita yang menopang buku iniPEMERSATU NGRI Simbol Abadi Pemersatu Negeri
Di tengah geliat karya terjemahan buku-buku sejarah, misalnya The History of Java karya Thomas Stamford Raffles serta The History of Sumatra-nya William Marsden, muncullah kemudian Nusantara: A History of Indonesia (judul terjemahan: Nusantara: Sejarah Indonesia), karya indolog Bernard H. M. Vlekke, ditulis berkisar 1941-1943. Penyerangan Jepang atas pangkalan militer Amerika di Asia Pasifik (Pearl Harbor), dijadikan penandanya. Barangkali inilah trilogi historiografi terjemahan teranyar yang membincang wacana sejarah negeri ini.

Pemerian sejarah yang dilakukan Vlekke runtut tertata rapi. Menampilkan fragmen-fragmen sejarah masa pra-kolonial hingga sampai kedatangan bangsa kolonialis (Spanyol, Portugis, dan Belanda) di Nusantara. Tepatnya sampai tahun 1945. Porsi pembahasan pra-kolonial disoroti dengan tajam, mendedahkan begitu banyak informasi yang jarang diekpektasikan banyak orang. Mungkin karena itulah buku ini langsung dapat sambutan hangat dari para penggandrung sejarah. Sampai naik cetak ulang dan terpajang di rak buku best seller. Terlebih buku ini terasa berbobot karena penulis melampirkan data sejarah (setumpuk dokumen, buku dan arsip-arsip kuno) yang hampir sepenuhnya berasal dari luar negeri dan diakui otentisitasnya. Dengan dandanan kata dan paragraf yang menarasikan sejarah ilustratif, cantik bak dongeng.

Vlekke membentangkan Bab Pertama dengan deskripsi muasal manusia Indonesia dan pembentukan masyarakat kerajaan. Namun membicarakan ihwal manusia Indonesia ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Saking beragamnya ras manusia yang menyimpul di dalamnya. Menurut dua antropolog bersaudara, P. dan F. Sarasin misalnya, sebelum kedatangan moyang bangsa Indonesia yang tergabung dalam gelombang ”Proto dan Deutero-Melayu”, populasi asli kepulauan Indonesia adalah suatu ras berkulit gelap dan bertubuh kecil. Tetapi lambat laun setelah datangnya penghuni baru yang lebih memilih untuk menghuni daerah-daerah pesisir pantai, sisa-sisa penduduk asli ini akhirnya terdesak ke daerah pedalaman. Hal ini tentu mematahkan asumsi kebanyakan orang yang selama ini mengira moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan di daratan Tiongkok.

Tidak banyak memang sejarawan yang mengulas perihal sejarah Indonesia secara komprehensif. Satu dari yang sedikit itu adalah Vlekke. Untuk mengulas balik sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa, penulis tidak begitu saja mengabaikan informasi dari dua kitab sejarah teramat fenomenal yang kerap diperbincangkan dalam taman sari sejarah Nusantara. Kitab tersebut adalah Pararaton dan Negarakertagama. Dan, bisa jadi hanya dua kitab inilah yang dijadikan sumber dari dalam oleh Vlekke. Menurut Vlekke, kedua kitab tersebut bukanlah sebuah narasi sejarah murni. Karena penulisannya didasarkan atas hal-hal baik yang pernah dilakukan raja. Pendek kata, kitab itu dirancang sekadar untuk memperkuat kedudukan sang raja.

Menurut buku ini, Majapahit adalah sebuah model negara kesatuan di masa silam. Sumpah Amukti Palapa yang keluar dari mulut Gadjah Mada menjadi semacam simbol abadinya. Nama ”Nusantara” adalah istilah yang amat lekat dan merujuk pada periode ketika Hayam Wuruk menyatukan berbagai pulau besar dan kecil di seluruh negeri ini, di bawah naungan imperium Majapahit. Lalu, saat Nusantara tengah dijajah imperealis Belanda, ketika para pemuda dan rakyat negeri ini cukup concern mendiskusikan akar-akar kesatuan Indonesia (1908), muncullah ide bagi model persatuan yang secara historis paling sesuai dengan yang diingini untuk Indonesia hari itu. Gagasan persatuan dan kesatuan yang menandai lahirnya beberapa organisasi pemuda tersebut akhirnya jatuh pada Majapahit. Jadi, sejatinya, bukan momen historis yang bernama kolonialisme yang menyatukan bangsa ini, melainkan karena masa silamnya yang gilang-gemilang. Meskipun sempat tersebar isu panas, sebagaimana dilansir surat kabar Jawa, Bramartani –asumsi serangan Demak ke jantung imperium Majapahit yang membuat kerajaan ini rontok– (baca selanjutnya: Ricklefs, Polarising Javanese Society).

Datangnya Belanda telah mengkangkangi Nusantara. Dengan tamak mereka mengeruk kekayaan bumi pertiwi. Mereka juga mengacak-acak beberapa wilayah Nusantara. seperti Ternate, Makassar, Mataram, Banten hingga menyebabkan kerajaan-kerajaan Islam itu menemui nasib yang tak jauh beda dari Majapahit. Bukan sekadar itu, kedatangan kolonialis Belanda telah membentangkan kidung ratap kesengsaraan manusia Indonesia lebih dari tiga abad lamanya. Misi kolonial inilah sesungguhnya yang dilawan penduduk negeri ini. Di mana-mana Belanda sengaja menyulut api peperangan, namun penduduk tak tinggal diam, mereka respons dengan perlawanan yang tak kalah sengit pula. Kesengsaraan penduduk pribumi ini makin terlihat jelas saat Belanda menerapkan sistem tanam paksa. Sebab, diakui atau tidak telah menumbalkan berjuta-juta manusia Indonesia.

Pada bab-bab terakhir, seperti pada Bab IX, Vlekke mengurai seputar aspek-aspek baru yang mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia. Penulis menceritakan dengan teramat detail struktur bangunan, tata kota serta keindahan-keindahannya. Tak ketinggalan, lapisan-lapisan masyarakat Belanda yang tinggal di Batavia serta ihwal kehidupan penduduk Batavia.

Selanjutnya pada Bab XX, XI, XII, sampai Bab XII mengulas arogansi kaum penjajah, iklim politik serta gerakan-gerakan di Nusantara (Batavia) khususnya politik perdagangan dalam negeri, pengajaran, mobilitas sosial serta pertumbuhan penduduk Hindia, dari masa Herman Williem Daendels, Thomas Stamford Raffles, hingga masa gubernur jendral Johannes Van Den Bosch. Dan, pada bab-bab terakhir, baru membicarakan bibit-bibit kebangkitan bangsa dan pergerakan nasional di Nusantara.

Keberanian buku yang tersusun atas enam belas bab ini patut diacungi jempol, karena memasang judul Nusantara. Istilah yang kala itu bermuatan reaksioner bagi pihak Belanda. Keterkaitan periode satu dengan periode seterusnya dipaparkan dengan baik, hingga memunculkan kronik sejarah yang kaya. Membacanya, kita seperti sedang dihidangkan suguhan narasi sejarah sebuah negara besar yang membentang dari barat ke timur. Namun, karena buku ini memburu kekomprehensifan, akibatnya justru membuat pembahasannya tidak pernah tuntas. Misalnya, ketika memaparkan Aru Palakka –raja Bone– dan Kapitan Jonker –orang Ambon asli– (hlm. 183-205), yang membantu Kompeni Belanda kala itu, latar belakangnya tidak pernah diungkap secara mendetail.

Sebagai sebuah karya yang membincang sejarah negeri ini, Nusantara karya Vlekke ini laik untuk melengkapi minimnya karya indologi serta miskinnya pengetahuan para penikmat sejarah. Di samping itu, hadirnya buku sejarah ini sebagaimana yang diakui Luthfi Assyaukanie, telah mematahkan tesis tentang ketiadaan kaitan antara peristiwa masa lampau dengan peristiwa sekarang. Dari buku ini justru kita dapat mengetahui bahwa kejadian di masa sekarang ternyata ada kaitan erat dengan peristiwa sosial-politik di masa lampau. (*)

KECANTIKAN SUGAWI

Akram Ridha, Sygma Publishing Bandung, September 2008 (Spiritualisme)

TEACH ONLY LOVE

Gerald G. Jampolsky MD, Elex Media Komputindo Jakarta, November 2008 (Populer)

MENYEIMBANGKAN OTAK KIRI DAN OTAK KANAN

Pangkalan Ide, Elex Media Komputindo Jakarta, November 2008 (Psikologi)

MICHELLE OBAMA, LEBIH PINTAR DARI OBAMA

Wasis Wibowo, Ufuk Jakarta, November 2008 (Sosok)

SINGKAR

Siti Aminah, Griya Jawi Semarang, 2008 (Cerpen Jawa)

KARENA AKU BEGITU CANTIK

Azimah Rahayu, Sygma Publishing Bandung, 2008 (Novel)

ILMU KEARIFAN JAWA

Pitoyo Amrih, Pinus Book Jogjakarta, November 2008 (Budaya)

MAFIA KESEHATAN

Alexandra Indriyanti D., Pinus Book Jogjakarta, November 2008 (Kesehatan)

RAHASIA BAHAN BAKAR AIR

Poempida Hidayatullah & F. Mustari, Ufuk Jakarta, Agustus 2008 (Populer)

CHRIST THE LORD, THE ROAD TO CANA

Anne Rice, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, November 2008 (Spiritualisme)

MUKJIZAT PENYEMBUHAN AIR ZAMZAM

Mutiara media Jogjakarta, 2009 (Religiusitas)

ESCAPE

Caroly Jessop dan Laura Palmer, Hikmah Jakarta, November 2008 (Kisah Nyata)
42070large
Berpetualang di Negeri Teror
Masih segar dalam ingatan kolektif kita bahwa pada 11 November 2008 trio bomber Bali (Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudra) dieksekusi di lembah Nirbaya, Nusakambangan, pukul 00.15. Eksekusi itu merupakan ganjaran atas aksi bom mereka di Paddy Pub dan Sari Club, Jalan Legian, Kuta, Bali.

Bagi sebagian orang, trio bomber itu adalah teroris karena telah mencederai rasa kemanusian banyak orang. Namun, di sisi lain, banyak juga simpatisan yang mengelu-elukan mereka sebagai pahlawan yang patut dikenang. Bahkan pada saat jenazah Amrozi tiba di desa kelahirannya, ratusan orang menyambutnya dengan spanduk provokatif berbunyi: Mati Tiga, Tumbuh Tiga Ribu.

Lebih dari itu, dengan dieksekusinya Amrozi Cs dan tertangkapnya beberapa pelaku tindak teror lain, bukan berarti secara otomatis aksi-aksi teror akan berlalu dari bumi Indonesia. Tidak ada yang berani memberi garansi. Sebab, tindakan kekerasan atas nama agama –untuk tidak mengatakan teror– sudah ada dan terjadi sejak republik ini berdiri. Pada titik inilah, buku hasil investigasi Ken Conboy ini menemukan titik relevansinya. Melalui buku ini, pembaca diajak Ken Conboy kembali ke masa silam menengok sejarah panjang gerakan Kartosuwirjo hingga Kahar Muzzakar yang mengidealkan Indonesia sebagai negara Islam (Darul Islam).

Seperti gaya penulisan buku terdahulunya, Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia, Ken Conboy dengan runtut dan sistematis mengurai serta menceritakan betapa gerakan Kartosuwirjo, Kahar Muzzakar, dan tokoh-tokoh sealiran yang ternyata memiliki benang merah dengan ”dunia gelap” yang tidak diketahui orang kebanyakan. ”Dunia gelap” pada konteks ini, tak lain adalah dunia beberapa tokoh Pesantren Ngruki, Solo, yang bersembunyi di Malaysia karena tekanan Orde Baru dan kemudian nyambung ke pergolakan Afghanistan, hingga akhirnya berujung pada tokoh popular abad 21: Osama bin Laden.

Buku dengan judul asli Inside Asia’s Most Dangerous Terrorist ini mencoba mewartakan kepada pembaca tentang jaringan teroris yang bersembunyi di pelosok-pelosok desa di Malaysia, pegunungan di perbatasan Afghanistan, hutan belantara Filipina, hingga yang tinggal di desa-desa terpencil Indonesia. Dari data yang diungkap Ken Conboy terkuak bahwa Amrozi yang murah senyum, Imam Samudra yang bermata tajam, dan Ali Ghufron yang galak adalah para ”pejuang” yang akrab dengan petualangan di dunia gersang Afghanistan.

Dalam buku ini terungkap pula fakta bahwa Hambali, salah seorang tokoh penting jaringan terorisme Asia, bisa berganti-ganti paspor karena mudah dan murahnya mencari paspor Indonesia bikinan Tanjung Pinang. Di sisi lain juga diceritakan secara detail bagaimana cara trio bomber itu merancang, mengorganisasi, dan meledakkan Bali dengan bom rakitan para lulusan Afghanistan itu. Kita benar-benar mendapatkan informasi yang luar biasa tentang rumus membuat bom dengan mengunakan bahan kimia yang bisa dibeli di toko, hingga foto-foto yang tidak pernah dimuat media massa, termasuk buku harian Azhari, dan foto orang Indonesia yang terlibat dalam aksi teror di Spanyol.

Diakui atau tidak, buku ini kaya data sepak terjang jaringan terorisme Asia. Sumber datanya didapat dari hasil wawancara penulis dengan petugas intelijen hingga agen CIA. Yang kurang, buku ini tidak ada wawancara dengan para pelaku teror. Data yang dihasilkan hanya bersifat deskriptif-eksplanatoris. Ken Conboy hanya menjelaskan dan menggambarkan bagaimana gerakan tersebut terjadi, aktivitas yang dilakukan para tokoh gerakan dan pengikutnya, serta berapa peristiwa penting yang dilakukan komunitas tersebut. Sementara itu, relasi sosial, faktor-faktor yang mendorong munculnya gerakan, implikasi sosial yang ditimbulkan, dan perubahan formasi sosial yang terjadi akibat gerakan tersebut, kurang mendapat porsi bahasan yang seimbang.

Terlepas dari kelebihan serta kekurangannya, buku ini tetap memberikan informasi yang berharga tentang sepak terjang para teroris.

Kata ”teroris” memang sudah tidak asing bagi telinga masyarakat Indonesia. Namun, bila ditelaah lebih detail, konsep teror ataupun teroris sebenarnya mempunyai problematik semantik. Problem semantik karena aksentuasi penggunaannya yang berbeda. Bagi Amerika dan sekutunya, trio bomber Bali adalah teroris yang mengancam dunia. Tapi, sebaliknya, bagi Amrozi cs, Amerika adalah teroris nomor satu sejagad. Proses perubahan makna dalam sejarah bahasa bukanlah hal baru. Jadi, nomenklatur boleh lama tapi maknanya bisa berubah pada hal baru.

Akhirnya, selamat berpetualang di Negeri Teror. (*)

Berpetualang di Negeri Teror

Judul Buku : Medan Tempur Kedua

Penulis : Ken Conboy

Penerjemah : Syahrini Dyah N.

Penerbit : Pustaka Primatama, Jakarta

Cetakan : I, Agustus 2008

Tebal: 260 halaman + indeks

Yani Arifin Sholikin, lulusan IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, tinggal di Dumpiagung, Lamongan


  1. mas bisa minta alamat percetakan griya jawi




Leave a Comment