Archive | Oktober 2008

Maraknya Video Porno yang Dilakukan Oleh Anak SMP

Pembuatan adegan dalam video porno yang dilakukan anak-anak berseragam putih biru tidak terlepas dari perkembangan teknologi yang semakin canggih. Kondisi sekarang, anak-anak yang baru akil baliq ini sudah mengenal pacaran, layaknya orang dewasa. Seperti apa gaya pacaran anak SMP sekarang?……………………………………………………………… MEMASUKI usia akil baliq, anak-anak menjelang usia remaja ini sudah mulai tertarik terhadap lawan jenis. Ketertarikan ini, dalam usia yang masih di bawah umur, biasanya diungkapkan gaya malu-malu kucing.

Namun, ada juga yang mengungkapkan dengan rasa dan ekspresi yang berlebih. Atas ketertarikan ini, mereka membuat kesepakatan bersama. Kesepakatan dua orang lawan jenis ini yang sering dikatakan berpacaran.

Ekspresi mengungkapkan, rasa saling suka ini, bukan hal yang sulit lagi dilakukan bagi anak-anak. Jangankan, harus bersusah payah melalui internet atau transfer antar handphone secara bersembunyi-sembunyi. Mereka dengan gampang mendapatkan melihatnya dengan mononton di televisi setiap hari yang menayangkan sinetron dengan adegan berpacaran.

Melihat tayangan orang berpacaran di telivisi, Riski salah satu siswa SMP favorit di Kota Pati ini mengungkapkan, pacaran di usia anak SMP sudah lumrah. Bahkan, mereka tidak lagi malu-malu.

“Itu sudah biasa, teman-teman banyak sekali yang pacaran. Ada yang sesama teman se-sekolah, ada juga yang lain sekolah. Temen-temen tidak ada yang malu, bahkan, bangga kalau sudah punya pacar,” ungkapnya.

Biasanya, lanjutnya, sepulang sekolah mereka berjanjian untuk bertemu di sekolah atau luar area sekolah. Bahkan, untuk mengantarkan pulang ‘sang kekasihnya’ tidak ada lagi rasa canggung apalagi malu.

Tidak hanya itu, temannya yang berpacaran tak segan-segan melakukan kontak fisik, seperti berpegangan tangan, berpelukan sudah menjadi hal biasa. “Kalau ciuman, belum pernah lihat,” ujarnya.

Mengenai melihat gambar porno di handphone atau internet, bagi teman-teman sebayanya hal ini sudah lumrah. Mereka, sering kali mengakses internet melihat gambar adegan seronok ini dan membicarakan dengan temannya.

Sementara itu, Titi Mahargyaningrum, psikolog Keluarga Sehat Hospital (KSH) mengungkapkan, anak-anak berusia 13-16 tahun masih dalam proses pencarian. Namun, selama masa pencarian ini anak-anak menerima suguhan sinetron yang bertema percintaan dan intrik. “Bukan lagi tentang sebuah prestasi, tetapi lebih banyak nilai negatifmya,” ujar konselor remaja ini

Iklan

Superketat, Jelang Eksekusi Amrozi Cs

CILACAP – Keamanan di Cilacap benar-benar menjadi prioritas polisi. Saat ini, hampir tidak ada sejengkal tanah pun yang luput dari pengawasan petugas keamanan.

Kemarin penambahan pasukan besar-besaran dilakukan. Bila sebelumnya polisi menjaga objek-objek vital dan tempat-tempat strategis lain, mulai kemarin (30/10) beberapa instansi pemerintah juga memperoleh perlakuan yang sama. Misalnya, Kantor Kejaksaan Negeri dan Kantor Pemkab Cilacap. Semakin mendekati hari H eksekusi tiga terpidana mati kasus bom Bali I – Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron- diperkirakan penambahan pasukan akan terus dilakukan.

Radar Banyumas (Jawa Pos Group) mengamati, pasukan penjaga objek-objek vital dan kantor pemerintah sudah siap untuk menginap berhari-hari. Sebab, mereka juga membawa ransel besar berisi perbekalan dan matras tidur.

Di kejaksaan ditempatkan sepuluh personel Brimob bersenjata lengkap. Di Pemkab Cilacap, sejak siang kemarin ada lima polisi dengan kesiagaan serupa. “Mulai hari ini (kemarin, Red) ada lima orang,” ujar seorang pegawai Pemkab Cilacap.

Bukan hanya itu, untuk menjamin keamanan di perairan, polisi meningkatkan intensitas patroli dengan perahu karet. Setidaknya, ada dua unit perahu karet yang selalu menyusuri Pantai Nusakambangan.

Di beberapa penyeberangan ke Nusakambangan juga mulai ditempatkan sejumlah personel keamanan. Misalnya di Dermaga Sleko, Cilacap. Di situ selalu stand by kapal patroli Angkatan Laut. Brimob beserta armadanya juga siaga di lokasi yang hanya berjarak 200 meter dari pantai itu. Pusdik Kopassus yang juga memiliki fasilitas penyeberangan ke Nusakambangan kini ditumpangi pasukan Brimob untuk menginap.

Sebagian pasukan itu diam-diam juga diseberangkan ke Nusakambangan. “Pasukan ini diseberangkan dengan perahu compreng nelayan ke Nusakambangan,” ujar salah seorang nelayan di Dermaga Sleko kemarin.

Di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap, pemeriksaan ketat dilakukan terhadap orang yang tak ada kaitannya dengan aktivitas pelabuhan. Mereka yang tidak punya kaitan dengan kegiatan pelabuhan langsung diminta pergi.

Aktivitas nelayan di perairan Cilacap juga dibatasi. Termasuk nelayan yang mencari penghasilan dengan menjual jasa wisata bahari dengan menyusuri Pantai Cilacap dan Nusakambangan. “Kemarin ada orang Polda Jateng menemui Pak Heri (ketua peguyuban nelayan, Red). Intinya, kita dilarang mengantar wisatawan menyusuri Pulau Nusakambangan,” ujar Raswan, 37, nelayan di sekitar Benteng Pendem, Cilacap, kemarin.

Sementara itu, konsentrasi polisi yang tampak mencolok itu mengundang kecemasan tersendiri bagi warga. Kemarin, Forum Silaturahmi Kiai dan Kader Muda (Forsikda) Cilacap meminta pelaksanaan eksekusi tiga terpidana mati bom Bali dilaksanakan di luar wilayah mereka. Permintaan didasarkan pada pertimbangan keamanan di kabupaten paling barat Jawa Tengah tersebut.

“Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Mahmudin, sekretaris Forsikda, kemarin. Alasannya, Amrozi cs memiliki jaringan yang luas. Karena itu, mereka meminta agar eksekusi dilakukan di Pulau Bali yang menjadi tempat aksi Amrozi dkk.

Forum itu juga meminta eksekusi segera dilakukan. “Kami minta pihak keamanan untuk segera mengambil langkah-langkah tegas dan cepat sehingga tidak menimbulkan spekulasi lain bagi kepentingan keamanan,” ujarnya.

Mahmudin menambahkan, sebelum pelaksanaan eksekusi mati, Amrozi dkk tetap memiliki hak untuk melakukan tobat dan minta maaf kepada keluarga korban. Mengenai tata cara hukuman mati, dia mengatakan tetap mengacu pada peraturan yang ada. Antara lain, terpidana mati harus menghadapi regu tembak. “Harus dengan peraturan hukum yang berlaku di negeri ini dan jangan berlarut-larut,|” katanya.

Di Solo, belasan anggota Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) kemarin mendatangi Kejaksaan Negeri setempat. Mereka menyatakan penolakanya atas rencana eksekusi terhadap Amrozi Cs. Mereka berdalih langkah itu akan memicu kekacauan di Indonesia

31 Pendatang Diusir dari Nusakambangan Menjelang Eksekusi Amrozi Cs

CILACAP – Menjelang eksekusi tiga terpidana mati bom Bali I, Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas, ditemukan 31 pendatang gelap di Pulau Nusakambangan. Mereka beralasan sedang menggelar ritual di Gua Masigit Sela yang terletak di barat Nusakambangan. Tak mau ambil risiko, aparat keamanan terpaksa memulangkan mereka ke daerah asalnya karena tidak bisa menunjukkan KTP.

Radar Banyumas (Jawa Pos Group) melaporkan, keberadaan pendatang gelap itu diketahui dari operasi yustisi Kesbanglinmas Cilacap menjelang eksekusi mati tiga terpidana bom Bali I. Operasi yustisi tersebut dilakukan pada�Selasa (28/10).

Menurut Kepala Kesbanglinmas Cilacap Yayan Rusiawan, ke-31 orang yang dipulangkan itu mengaku berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat. Mereka berniat “nyepi” di Gua Masigit Sela, Desa Ujungkalang, Kampung Laut, Cilacap. “Operasi yustisi ini rutin kami lakukan, apalagi sekarang menjelang eksekusi Amrozi dkk,” katanya.

Rusiawan memaparkan, ketika petugas melakukan operasi, rombongan orang itu tengah berdatangan dan masuk ke gua tersebut. Mereka mengaku akan melakukan tirakat sampai 1 November. Petugas pun langsung mengidentifikasi jati diri mereka. Soalnya, petugas sedang membersihkan Nusakambangan dan Kampung Laut dari pemukim liar.

Ke-31 orang itu terdiri atas empat orang Bandung, dua orang warga Sumedang, satu warga Majalengka, sembilan warga Ciamis, dan 10 orang asal Indramayu. Sisanya warga Kecamatan Kroya, Cilacap, dan warga kecamatan lain di Cilacap.

Kendati mengaku operasi yustisi itu tidak terkait prakondisi eksekusi, banyak pihak yang menyangkutkannya. Ini mengingat Nusakambangan sudah dinyatakan tertutup. Apalagi, langkah yang ditempuh menanggapi 31 orang yang tirakat itu tergolong luar biasa. Polisi pamong praja menempatkan empat personelnya.

Masigit Sela memang sering digunakan untuk bertirakat. Untuk mencapai gua tersebut masyarakat harus menggunakan perahu-perahu kecil. Banyak orang yang percaya tirakat di gua tersebut bisa menjadikan kaya, selamat, dan keinginannya terkabul.

Cuma sebelumnya, orang yang tirakat di sana jumlahnya sedikit. Wajar saja kalau akhirnya petugas menjaga ketat gua itu karena Cilacap sedang menskrining kemungkinan masuknya penyusup.

Sementara itu, selain pengamanan fasilitas vital negara, menjelang tanggal eksekusi Amrozi cs, pengamanan di kawasan Candi Borobudur juga diperketat. Selain di kompleks candi, peningkatan pengawasan dilakukan di hotel-hotel di sekitarnya.

Kepala Bagian Operasi Kepolisian Wilayah (Polwil) Kedu AKB Subambang mengatakan, personel polisi di Candi Borobudur yang semula berjumlah 15 orang, saat ini ditambah menjadi 24 orang. Penambahan personel itu terus dilaksanakan selama 25 hari, terhitung sejak Minggu (26/10) hingga 19 November mendatang.

Subambang menerangkan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, serta pengelola hotel di sekitar candi, untuk meningkatkan pengawasan terhadap tamu-tamu yang masuk.

Dua Pemuda Neo-Nazi, Obama Akan Ditembak dari Mobil

TENNESSEE – Upaya kelompok rasis menjegal langkah Barack Obama menjadi presiden AS berkulit hitam pertama ternyata bukan isapan jempol. Polisi di negara bagian Tennessee, AS, kemarin menangkap dua pria yang dicurigai berencana membunuh kandidat presiden dari Partai Demokrat itu.

Kedua tersangka itu bernama Daniel Cowart, 20, dari Bells, Tennessee, dan Paul Schlesselman, 18, dari Helena-West Helena, Arkansas. Mereka ditangkap dengan sejumlah senjata di mobilnya pada Rabu 22 Oktober lalu dan mulai disidangkan di Pengadilan Federal Memphis, Tennessee, kemarin.

Motif rasis untuk membunuh Obama terungkap dalam dokumen pengadilan. Sebelum membunuh senator yang pernah tinggal di Jakarta saat masa kecil itu, kedua tersangka berniat membantai 88 orang, termasuk memenggal 14 kepala keturunan Afrika-Amerika.

Angka 14 dan 88 adalah simbol supremasi orang kulit putih. Angka 14 merujuk pada semboyan supremasi yang terdiri atas 14 kata, yakni We must secure the existence of our people and a future for white children. Sedangkan 88 adalah kata sandi untuk dua huruf kedelapan alfabet, HH, yang merupakan kependekan dari salam Heil Hitler yang biasa diberikan kepada pemimpin fasis Jerman, Hitler.

Agen khusus di Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak (ATF) Nashville, Tennessee, Jim Cavanaugh dalam sidang mengatakan, Cowart dan Schlesselman berkenalan melalui internet satu bulan lalu. “Keduanya langsung kompak karena memiliki kepercayaan dan pandangan yang sama tentang White Power dan Skinhead,” ungkap Cavanaugh.

Gerakan White Power dan Skinhead adalah sama-sama gerakan rasial kulit putih neo-NAZI yang tumbuh di AS dan Eropa dan sangat antiwarga kulit hitam.

Gawatnya, setelah saling sepakat tentang gerakan yang mendukung dominasi ras kulit putih itu, keduanya berencana melakukan pembunuhan masal di Tennessee. Sebuah sekolah kulit hitam sudah mereka incar untuk aksi pembantaian itu. Jika sukses, mereka akan memburu Obama sebagai sasaran terakhir. “Mereka tidak yakin bisa melakukannya, tetapi mereka akan berusaha membunuhnya,” ujar Cavanaugh.

Untuk plot aksi itu, Cowart telah membeli satu senapan dan memiliki dua senjata tangan yang dicuri dari kakeknya. Sedangkan Schlesselman memiliki senapan dan pistol yang diambilnya dari ayahnya tanpa izin. Keduanya berencana mencuri senjata yang lebih dahsyat dari toko senjata di Jackson, Tennessee, serta melakukan serangkaian perampokan untuk membiayai rencana berdarah mereka. “Setelah senjata terkumpul, Schlesselman menyatakan berencana membawa mobilnya sedekat mungkin menuju Obama dan menembaknya dari balik jendela,” kata Weaks.

Tak cuma perlengkapan dan skenario yang rapi, kedua psikopat kulit putih itu juga menyiapkan kostum yang dikenakan saat menembak Obama. Kepada penyidik, mereka menyatakan akan menggunakan tuksedo putih dan topi selama upaya pembunuhan itu. “Keduanya tahu bisa tewas akibat aksi gila itu, namun mereka bersedia menempuh risiko itu,” tambah Weaks.

Pengadilan Federal Memphis juga diberi keterangan oleh para saksi bahwa sesaat sebelum mereka ditangkap, Cowart dan Schlesselman membeli makanan, tali nilon, dan topeng ski. Mereka juga berencana merampok sebuah rumah pada 21 Oktober. Tetapi buru-buru rencana itu dibatalkan ketika mereka melihat anjing dan dua kendaraan pemilik rumah.

Mereka juga menembaki jendela sebuah gereja lokal di Brownsville, Tennessee, sebelum berkendara pulang menuju rumah kakek Cowart, tempat mereka menorehkan beberapa simbol dan kata-kata rasis, termasuk simbol Swastika dan angka 14 serta 88 ke atap mobil Cowart, sebelum akhirnya ditangkap Rabu lalu. Kedua laki-laki itu akan disidang kembali di pengadilan federal Memphis pada Kamis (30/10).

Pejabat jaksa AS untuk Tennessee Lawrence Laurenzie mengatakan, tuduhan-tuduhan yang diajukan dalam perkara kriminal itu sangat serius dan mereka terancam dijatuhi hukuman berat. “Masyarakat dapat sepenuhnya yakin bahwa penegak hukum bekerja sama untuk menyelidiki dan menuntut aktivitas yang didakwakan,” ujarnya.

Juru bicara Secret Service (agen pengamanan presiden/SS) Eric Zahren mengatakan, tidak jelas apakah kedua tersangka mempunyai kemampuan menjalankan aksinya. Namun, masalah itu dianggap serius dan penyelidikan melibatkan tim gabungan sedang dilakukan. Sementara itu, juru bicara tim kampanye Obama saat mengikuti kampanye Obama di Pennsylvania, Linda Douglass, menolak berkomentar. “Kami tidak pernah mengomentari masalah keamanan,” ujarnya.

Obama, yang telah menorehkan sejarah dengan menjadi kandidat presiden AS berkulit hitam pertama dari sebuah partai politik utama, telah berada di bawah pengawalan ketat SS. Pengawalan terhadap Obama bahkan diberikan sejak Mei 2007, lebih awal ketimbang kandidat presiden mana pun.

Ancaman pembunuhan terhadap Senator Illinois tersebut bukan yang pertama. Agustus lalu tiga pria yang terbukti menyembunyikan senjata ditangkap di Denver, Colorado, tempat Konvensi Partai Demokrat. Tetapi, para jaksa mengatakan, tidak ada bukti kuat mereka berencana membunuh Obama. Sebulan kemudian, seorang pria Florida didakwa mengancam akan melukai Obama. Namun, belakangan pria itu juga terbukti tidak bersalah…..

Perkawinan syeh puji yang menghebohkan itu

RUMAH loteng dengan tembok bangunan belum diplester semen halus, bahkan bagian lantai II tampak batu batanya, itu terlihat sepi dengan pintu tertutup rapat. Padahal, keluarga pemilik rumah, pasangan suami istri Suroso-Siti Huriah, orang tua Lutfiana Ulfa, baru bulan lalu mendapat anak ketiga, seorang bayi laki-laki.

Saat berkunjung ke rumah yang terletak Desa Randu Gunting, Kecamatan Bergas, sekitar 20 meter dari jalan raya Semarang-Solo, Jawa Pos tidak melihat ada tanda-tanda rumah itu dihuni. Apalagi, suara bayi. “Pak Suroso tidak ada di rumah, sedangkan Bu Suroso masih di Boyolali,” kata Supardi, penjual mi ayam yang berjualan di teras sebelah rumah.

Supardi yang asal Wonogiri, Jawa Tengah, memang mendapat kepercayaan dari Suroso untuk mengurus rumah dan mengawasi empat anak kos (pegawai pabrik setempat) yang ada di rumahnya. Maklum, sejak sang istri (Siti Huriah) memilih melahirkan di kampung halaman, Boyolali, rumah itu tidak ada yang mengurus.

Apalagi, si sulung, Lutfiana Ulfa, kendati baru berumur 12 tahun, sejak 8 Agustus lalu dinikahi dan diboyong suaminya, H Pujiono Cahyo Widianto alias Syeh Puji, seorang pengusaha kaya.

Bagi keluarga Suroso, 35, kelahiran bayi laki-laki pada 15 Oktober lalu itu melengkapi kebahagiaan mereka. Maklum, dua anak sebelumnya adalah perempuan. Setelah Ulfa, anak nomor dua adalah Novi Agustin yang berusia 8 tahun.

Para tetangga mengenal Ulfah sebagai gadis berkulit bersih yang cantik. Setiap sore dia mengikuti kegiatan di Taman Pendidikan Alquran (TPQ) dilanjutkan salat Magrib di Masjid Mujahidin yang hanya beberapa puluh meter dari tempat tinggalnya.

Kalau tetap melanjutkan sekolah, tahun ini mestinya Ulfa duduk di kelas 1 SMP. Alih-alih sekolah, pada awal Agustus lalu, Ulfa malah mendapat pinangan dari Syeh Puji yang usianya delapan tahun lebih tua dibanding ayahnya (Suroso).

Ratih, teman sebaya Ulfa, adalah salah seorang yang mengaku “kehilangan” setelah Ulfa menikah. ”Hubungan (Ulfa) dengan teman-teman lainnya baik, Pak. Dia itu anaknya pintar dan tidak sombong. Kami sering nggarap PR bersama-sama di rumahnya,” katanya.

Seorang tetangga dekat Suroso yang tak mau disebut nama mengenal gadis yang sedang menanjak remaja itu suka mengoleksi kertas binder dan saling bertukar dengan teman-temannya. ”Dia sopan dan alim, serta patuh kepada kedua orang tua. Dia jarang dimarahi oleh orang tuanya karena patuhnya itu,” tambahnya.

Tentang jarangnya Suroso pulang ke rumah itu juga diakui tetangga tersebut. Suroso yang karyawan pabrik kertas PT Puri Nusa -berlokasi di Bawen (jurusan Semarang-Solo)- sering ganti jadwal piket masuk (sif) kerja. Selain itu, dia sering mengunjungi Ulfa di kediaman Syeh Puji di Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.

”Kadang-kadang ke sini, Mas. Nggak mesti kadang malam atau pagi, setelah itu pergi lagi,” tambahnya.

Menurut tetangganya itu, beberapa hari sebelum dinikahi Syeh Puji, Ulfa yang baru lulus dari SDN Randu Gunting tampak gembira dan ceria. Dia sering bercerita kepada teman-teman serta tetangganya, kalau sebentar lagi dinikahkan orang tuanya. ”Tampaknya dia menerima dengan ikhlas dan menikmati pinangan serta menikah dengan Pak Pujiono. Mesti secara usia cukup jauh,” katanya.

Suroso yang ditemui pada acara halalbihalal di Ponpes Miftahul Jannah yang didirikan Syeh Puji mengakui, dia sekeluarga sudah ikhlas putri sulungnya dinikahi Syeh Puji. Buktinya, lanjut dia, putrinya memberi anggukan setuju ketika tim Syeh Puji datang ke rumah untuk meminang pada 5 Agustus lalu.

”Sebagai orang tua tentu saya melindungi anak. Tidak ada pemaksaan dalam bentuk apa pun. Ulfa juga tidak merasa ditekan oleh siapa pun,” tambahnya.

Menurut Suroso, ada beberapa pertimbangan mengapa Ulfa bersedia menikah pada usia belia. Di antaranya akan dipercaya memimpin PT Sinar Lendoh Terang (Silenter), perusahaan milik Syeh Puji. Selain itu, Ulfa masih bisa sekolah meski dengan cara mendatangkan guru.

Dia menolak anggapan keluarganya membiarkan Ulfa menjadi istri kedua dari orang yang layak jadi orang tuanya demi keuntungan materi. ”Saya masih kuat bekerja dan bisa menghidupi anak istri. Tapi, melihat tujuan Syeh Puji baik, saya, istri, dan anak saya setuju dan ikhlas dengan pernikahan ini. Anak saya juga ingin membahagiakan orang tuanya kok,” tambahnya.

Suroso mengatakan, dirinya dan istri sudah tahu bahwa Syeh Puji banyak uang. Namun, bukan itu satu-satunya tujuan. ”Tujuan anak saya itu bahagia dunia dan akhirat. Kalau ada orang kaya yang menikahi anak saya, tapi tujuannya tidak jelas, tentu kami tidak bersedia,” imbuhnya.

Meski sudah menikah, kata Suroso, Ulfa yang mengalami menstruasi sejak berusia 10 tahun direncanakan (tidak hamil) dan baru memiliki anak di atas usia 17 tahun. Sesuai janji Syeh Puji untuk mengangkat Ulfa jadi general manager (GM), “program” paling dekat yang akan dijalani Ulfa saat ini pengaderan untuk mengelola PT Silenter.

Sang ayah mengakui, Ulfa yang di sekolahnya selalu berada di peringkat teratas itu sudah menunjukkan kelebihan sejak berusia lima tahun. Sekecil itu, kata Santoso, Ulfa sudah berjanji memberangkatkan kedua orang tuanya naik haji.

“Saat itu kami diminta tidak usah khawatir tentang biaya. Sebab, atas izin Allah, semuanya akan terlaksana dan terwujud,” katanya.

Suroso mengakui, sebelum datang pinangan Syeh Puji ke rumahnya, Ulfa seperti mendapat tanda-tanda. Salah satunya, sang gadis menemukan sarang madu di seputar kamar mandinya. Kejadian itu lalu dilaporkan kepada ayahnya. “Waktu itu saya minta agar sarang-sarang madu itu dibiarkan. Jangan diganggu atau dirusak,” katanya.

execution Amrozi Cs, Cilacap standby

bom bali  Amrozi Cs executed Stay Dead

CILACAP – Police tighten security in a number of vital objects around the island of Nusakambangan. Polres Cilacap menyiagakan most personelnya. Among the 1,000 members polres, which revealed approximately 700 personnel. That is a step towards anticipating the Attorney General (Kejagung) announced the schedule and the technical execution of three Bali bomb terpidana death Amrozi, Imam Samudra and Ali Ghufron alias Muklas on 24 October. Security execution”will not only matters Polres Cilacap,”said Teguh Kapolres Cilacap AKBP Pristiwanto yesterday.

According to Jamil, the police will secure the vital objects, such as the Steam Power Plant (PLTU), Holcim Cement Factory, and Pertamina refinery. The object is to be vital before the main focus of global security held before the execution. ”Until now there has been no additional troops from polda and polwil,”Jamil clear.

Towards the execution, circulating information that a number of sympathetic Amrozi cs start entering Cilacap. However, Kapolres reluctant to ensure that information. He had asked back. “Did you (journalists) can even such information?” he said. What is clear, he added, Polres Cilacap ready to prosecute any time needed.

Radar monitoring of journalists, Banyumas (Jawa Pos Group), the police more frequently Taking her in a number of new immigrants entrance city of Cilacap.

According to Kapolres, operations are routine and held not only before the execution. ”That anticipate any crime. So, do not disalahartikan,”said Teguh.

State prosecutors (Kejari) Cilacap Kejagung have not received instructions related to the preparation of execution of Amrozi cs. ”We are still waiting,”said Christiana M. Kajari Yamin Hospital in office yesterday.

He explained that, based on experience during the execution of two napi origin of Nigeria, given the new Kejari Cilacap know H-3 implementation.

Decision Test material

From building the Constitutional Court (MK), people have the desire to be executed Amrozi et al train. In a hearing yesterday (21/10), the Constitutional Court (MK) rejected the claim of the test material on ways of implementing the death penalty proposed power law Amrozi cs.

On the decision, the Bali bomb dead terpidana it will be executed by shot. In a trial verdict, which led the test material Mahfud MD , the MK-rate proposition on the argument of the applicant’s formal testing is not grounded, so that should be rejected.

When read the verdict hearing, the state Mahfud, the pain experienced terpidana death is a logical consequence of inherent in the criminal died as a result of the implementation of criminal death terpidana according to the procedure applicable.

Alternative ways of”criminal die as train and hanging electric current of electricity or cause pain, although the speed of gradation and death is different,”he said in MK Building yesterday.

Therefore, he continued, with a shot execution does not include the category of torture against self terpidana dead. With these basic, Mahfud emphasized throughout the application the applicant, both formal and material testing, declined. In addition, the use of the right not to torture in Article 28 I considered the 1945 Constitution is not right.

He also stated there is no one way to ensure the lack pain in the execution, even all the risks ketidaktepatan occurrence in the implementation of the cause pain. ”However, it is not torture referred to Article 28 I 1945 Constitution, so 2/Pnps/1964 Tax Law on Implementation of Criminal Procedure Off the court imposed in the general environment of justice and the military does not conflict with the 1945 Constitution,”he explained.

Judge Constitution Maruarar Siahaan previous request that torture be appropriate framework of human rights (human rights). He pointed definition of torture in Law No. 39 of 1999 on Human Rights and Article 1 Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment.

Article 1 points 4 interpret human rights law, torture is any act done intentionally, causing pain or suffering greatly, both physical and spiritual, someone on the recognition or to obtain information from someone or from a third person, with a top chastise the act that has been done or alleged to have been done by a person or a third party, or threaten or coerce a person or a third person, or for any reason based on any form of discrimination, when the pain or suffering is caused by, for incitement of, with the agreement, or As anyone and / or public officials.

Previously, the team the power to make laws Amrozi cs test material Article 1 and 14 paragraph (3) and (4) of Law No. 2/Pnps/1964 Procedure Implementation of Death because it is considered contrary to Article 28 paragraph I (1) of the 1945 Constitution. Amrozi cs want to be executed by dipancung, not shot like that happening in Indonesia.

Decision is directly direaksi two Amrozi cs lawyers, Achmad Michdan, and Adnan hero. In fact, Michdan re-emphasize the statement that their clients ways such as the death penalty is decided when the decision is wrong and must be rejected. ”With a shot dead execution against the 1945 Constitution, namely the principle of legality dilanggarnya. Therefore, in the near future we submit a letter to the International Court,”Michdan firmly after the hearing.

He also did not concur with the decision, which stated that MK Law 2/Pnps/1964 are nonretroaktif. Michdan assume that the execution will be carried out against Amrozi cs is a form of abuse against the law wrong.

The position of the law”does not like our clients based on the death penalty nonretroaktif. Once again, we will submit this issue to Amnesty International,”he said.

He added, the ways of testing material on the implementation of criminal death was not solely the interests of terpidana Bali bomb dead now become clients, but against all terpidana dead in Indonesia.

Meanwhile, add the hero, family Amrozi cs can submit a review of the trial (PK) to the Supreme Court as a legal step further. According to him, the team will advise the power of law Amrozi family because the family has the right to PK. ”We will advise the family because it still has the rights to PK,”he said.

According to him, though not agree with the decision, the party still respect the decision because it is a MK. However, according to a trustee who delivered MK, the word hero, the government must improve the Law 2/Pnps/1964. ”In a hearing this, MK reference is the law of human rights. So, there is a need to repair the law’s more humane,”he said.

In the other, Amrozi et al application refusal by MK, it seems, increase confidence of Attorney General (Kejagung) to begin executing the trio bomber. Kejagung ready to implement the execution of death by fire. Yes”does not violate the law. Still valid according to the provisions of Law No. 2/Pnps/1964,”said Attorney General Hendarman Supandji after meeting Kapolri Pol General Bambang Hendarso Danuri in Kejagung yesterday.

So, when the execution is carried out? Hendarman still reluctant to answer. ”Kan later announced Oct. 24. Wait,”he said. He was also reluctant to comment whether a meeting Kapolri associated with the security coordination. ”That’s only later,”he said.

As is known, Kejagung will announce the execution of Amrozi cs died on Friday (24/10). Attitude is firmly respond to the notion that Kejagung attempt temporize delay the implementation of the execution.

Previously, Kejagung mention the execution is carried out before death and Ramadan. However, it failed to do. In fact, Kejagung reluctant commented on the execution of Ramadan with a reason to respect the fasting. Later execution of Amrozi et al emphasis will be done this year.

info lowongan cpns di malang

MALANG…   Pemkab Banyak Butuh CPNS S1 dan D2 – Lulusan SMA/SMK di Kabupaten Malang yang tahun ini ingin menjadi CPNS harus siap-siap kecewa. Sebab, Pemkab Malang tahun ini lebih banyak menerima CPNS dari sarjana (S1) dan D2 untuk tenaga teknis.

Kepala BKD Kabupaten Malang Tulus Hariyanto di ruang kerjanya kemarin menyampaikan, dari total kuota 639 kursi, untuk jalur umum guru sebanyak 259, jalur umum tenaga kesehatan 73, dan jalur umum tenaga teknis 47. Sementara, jalur tenaga honorer 198. Dari 198 itu sudah termasuk guru honorer dan tenaga teknis lain.

Selain itu jatah untuk sekdes (sekretaris desa) sebanyak 62 orang. “Khusus jalur umum, kebanyakan yang dibutuhkan adalah sarjana,” terang Tulus.

Bagaimana dengan SMA/SMK? Itu yang membikin BKD pusing. Apalagi saat ini banyak lulusan SMA yang bersiap-siap ikut tes CPNS. Itu dibuktikan dengan banyaknya orang yang mengurus persyaratan tes CPNS seperti kartu kuning, SKCK, tes kesehatan, dan persyaratan administratif lainnya.

“Kami kasihan kalau ternyata foramasi untuk mereka (lulusan SMA/SMK) tidak ada, kan sia-sia, sudah habis banyak biaya,” terang mantan Camat Sumbermanjing Wetan ini.

Untuk jadwal pendaftaran CPNS di Kabupaten Malang, BKD masih menunggu penetapan dari Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Men-PAN). Namun, informasi yang didengar, kemungkinan akhir Oktober atau awal November sudah dilaksanakan.

Dalam kesempatan itu Tulus juga mendapat informasi kalau sejumlah GTT berharap bisa menjadi tenaga honorer dan masuk data base. ”Itu tidak bisa dilakukan, jika ingin diangkat menjadi PNS, mereka harus mendaftar lewat jalur umum. Untuk jalur honorer sudah ada jatah dari pusat,” papar Tulus.

Sementara, dari pentauan Radar di Polres Malang, setiap hari unit pelayanan SKCK Polres Malang kebanjiran pemohon. Sampai-sampai petugas kuwalahan melayani mereka. Padahal biasanya sepi. Kisarannya hanya antara 15-25 pemohon.

“Setiap hari tak kurang dari 200 pemohon yang mengambil dan mengembalikan blangko,” ujar Kasat Intel Polres Malang AKP Eko Istiono kemarin.

Menurut dia, setiap hari blangko yang disediakan dibatasi 200 saja. Itu untuk memaksimalkan konsentrasi pemeriksaan data-data yang disampaikan pemohon. Sebab, jika jumlahnya di atas itu, petugas kawalahan memberi pelayanan. ”Petugas yang jaga hanya enam orang, tiga dari intel dan tiga lagi dari iden yang bertugas melakukan sidik jari,”

Prihatin atas Maraknya Video Mesum Pelajar

JAK maraknya penggunaan ponsel berkamera, kini orang tidak malu lagi untuk merekam adegan mesum yang dilakukan. Bahkan, tidak sedikit di antara rekaman itu yang akhirnya tersebar luas ke masyarakat.

Yang memprihatinkan, sebagian pelaku video porno tersebut adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Ada pula yang dilakukan anggota dewan.

Fenomena tersebut tak hanya terjadi di kota-kota besar, tapi juga dilakukan para pelajar dan remaja di pelosok daerah. Contohnya adalah video mesum yang diduga dilakukan siswi salah satu SMA di Demak. Juga video berdurasi tiga menit berjudul Jatisrono Bergoyang yang menghebohkan warga Wonogiri.

Tak heran, di beberapa kota kini tengah gencar dilakukan razia terhadap ponsel pelajar. Harapannya, pelajar tidak lagi menyimpan gambar maupun video porno di ponselnya. Namun nyatanya, justru saat ini peredaran video porno lewat ponsel semakin marak.

Mungkin awalnya mereka merekam adegan mesra dengan pasangannya hanya sebagai dokumentasi. Tapi, rekaman itu justru menyebar dan menjadi konsumsi publik. Maraknya video porno tersebut tentu saja menjadi keprihatinan kita semua. Akan seperti apa moral generasi muda kita sekarang?

Rekening Bank Sarkozy Dibobol

PARIS – Pemerintah Prancis dipusingkan hacker. Bayangkan, rekening bank pribadi milik Presiden Prancis Nicolas Sarkozy pun menjadi korban kejahatan dunia maya itu. Sejumlah uang pun raib dari rekening pemimpin 53 tahun tersebut.

Kendati kasus pencurian itu terjadi sekitar sebulan yang lalu, pemerintah Prancis hingga saat ini belum berhasil menangkap pelakunya. “Investigasi masih berjalan,” ujar Jubir Kabinet Prancis Luc Chatel dalam wawancara dengan Radio J. Pelajaran penting dari kasus tersebut, lanjut dia, adalah sistem perbankan online via internet tidak kebal kejahatan.

Tanpa menyebutkan besarnya, mingguan Journal du Dimanche melaporkan, jumlah dana pribadi Sarkozy yang dibobol maling tidak terlalu banyak. Namun, yang patut diprihatinkan adalah kemampuan para hacker itu mendapatkan informasi penting, yakni nomor rekening pribadi sang presiden. “Belum tertangkapnya pembobol rekening tersebut menunjukkan bahwa si pelaku bukan amatir,” tulis surat kabar tersebut kemarin (19/10).

Kantor Kepresidenan Prancis membenarkan adanya kasus pencurian itu kemarin. Mereka menyatakan bahwa Sarkozy sudah melaporkan kejadian tersebut pada September lalu, tidak lama setelah dia mengetahui rekeningnya dibobol hacker lewat internet. Kini kasus tersebut tengah ditangani tim anti kejahatan finansial dan kriminal kawasan Nanterre yang terletak di pinggiran Paris.

Cross Check Mantan Kepala BAK UTS Perihal Ijazah Instan

SURABAYA – Pengusutan polisi terhadap jual beli ijazah instan menghasilkan sejumlah pengakuan baru. Salah satunya dilontarkan Handayani, mantan kepala Badan Administrasi Kemahasiswaan (BAK) Universitas Teknologi Surabaya (UTS) yang mengundurkan diri pada Agustus 2008. Saat ditanya tentang kasus ijazah instan terbitan UTS atas nama Eko, dia mengaku hanya melanjutkan kebiasaan lama.

Jawa Pos mendapatkan informasi bahwa Handayani menjawab 35 pertanyaan penyidik selama proses pemeriksaan kemarin (14/10). Pada awalnya, Handayani terkesan berusaha memberikan jawaban-jawaban yang terkesan diplomatis.

Misalnya, dia mengucapkan kata “tidak ada” ketika ditanya tentang peran rektor ataupun pihak luar yang bisa mengintervensi mekanisme penerbitan ijazah. Menurut dia, UTS memiliki prosedur yang selalu dijalankan.

Namun, karena penyidik telaten dalam mengorek keterangan, Handayani tak mampu terus menghindar. Misalnya, ketika polisi menanyakan nomor pokok mahasiswa NPM Eko (nama yang disebut UTS sebagai pencari ijazah) yang menandakan tahun akademik 2005-2006. Polisi menilai data itu sangat janggal karena mementahkan posisi transkrip nilai terbitan Unitomo (yang diklaim UTS sebagai dokumen yang dibawa Eko untuk transfer dan mendapatkan ijazah). Apalagi pihak UTS selalu mengatakan bahwa Eko adalah mahasiswa pindahan dan hanya perlu mengerjakan skripsi di UTS.

Kalau Eko hanya perlu mengerjakan skripsi, mengapa dia harus dijadikan mahasiswa yang masuk pada tahun akademik 2005-2006? Apakah hanya untuk membuat kesan proses studi yang agak lama? Padahal, Eko jelas-jelas tidak pernah kuliah di UTS.

Menghadapi pertanyaan itu, Handayani tidak bisa menghindar. Kepada penyidik, dia akhirnya mengaku hanya melanjutkan “kebiasaan-kebiasaan” BAK sebelumnya. “Berarti lebih dari sekali?” tanya penyidik. Handayani mengangguk.

Bermula dari cecaran pertanyaan itulah, nama Rektor Universitas Teknologi Surabaya (UTS) Yuliati dan suaminya, Fransiscus Senduk, disebut. Polisi ternyata sudah mendengar informasi tentang peran dua orang itu dalam kasus ijazah instan. Bahkan, mereka memiliki bukti dokumen intervensi yang meminta ijazah Eko diterbitkan. Saat hal tersebut ditanyakan kepada Handayani, yang bersangkutan mengiyakan.

Bukan hanya itu, polisi juga telah memiliki data percaloan mahasiswa di UTS. Mereka menemukan indikasi jaringan yang memiliki koordinator-koordinator pencari mahasiswa yang dilengkapi semacam MoU (memorandum of understanding) dengan pihak kampus.

Praktiknya sederhana. Pihak kampus mematok tarif biaya kuliah, misalnya Rp 3,5 juta. Kepada para mahasiswa yang dijaring, koordinator itu menjualnya dengan harga lebih tinggi. Untuk kasus Eko, pihak UTS dikabarkan hanya mematok tarif Rp 4,9 juta. Namun, koordinator yang berinisial G meminta Rp 8 juta.

Sementara itu, kuasa hukum UTS Moh. Sholeh tidak bisa dihubungi hingga tadi malam. Pesan pendek yang dikirim Jawa Pos tentang permintaan konfirmasi keterlibatan rektor dan suaminya serta praktik percaloan mahasiswa tidak dijawab.

Di bagian lain, Kasatreskrim Polwiltabes Surabaya AKBP Syahardiantono mengatakan bahwa pihaknya terus mengusut kasus ijazah instan hingga ke akarnya. ”Ini menunjukkan bahwa kami serius menangani kasus tersebut. Siapa pun yang terlibat dan segala praktik curang yang dilakukan akan kami ungkap,” tegasnya.

Kopertis Emoh Bertindak

Sementara itu, Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VII Jawa Timur sama sekali tidak menunjukkan kepedulian mereka untuk mengatasi persoalan ijazah instan di perguruan tinggi swasta. Untuk kasus UTS, mereka mengaku hanya memberikan teguran. Alasannya, masalah itu sudah ditangani polisi.

Koordinator Kopertis Wilayah VII Sugijanto juga terkesan “alergi” ketika dikonfirmasi soal kepedulian instansinya terhadap kasus UTS. Dia bahkan tidak mau menemui Jawa Pos yang kemarin datang ke kantornya. “Kalau masalah lain, Bapak (Sugijanto, Red) bisa,” kata Koordinator Humas Kopertis Wilayah VII Jatim Budi Hasan. “Kan masih banyak hal positif yang bisa digali selain masalah di UTS. Misalnya, pemberian beasiswa pada mahasiswa dan dosen,” lanjutnya. Budi juga menegaskan bahwa untuk masalah ijazah instan, sikap kopertis masih sama dengan pernyataan sebelumnya. Intinya, perguruan tinggi berwenang melaksanakan proses belajar mengajar secara mandiri. Mulai menerima mahasiswa, menetapkan nomor pokok mahasiswa (NPM), menyelenggarakan ujian, hingga menetapkan ijazah. “Tidak ada lagi nomor induk registrasi lulusan (NIRL) maupun penanda sah dari kopertis.

Saat ditanya mengapa kopertis “membiarkan” praktik jual beli ijazah instan, Budi berkilah bahwa selama ini tidak ada masyarakat yang lapor. Karena tidak ada laporan, kopertis pun diam. Tentu, hal itu bertentangan dengan misi kopertis yang ingin melaksanakan pengawasan, pengendalian, dan pembinaan pendidikan tinggi. “Kami akui pengawasan kopertis kurang maksimal. Kinerja kami ada kelemahan.

Kenapa mesti bentrok antar mahasiswa

JAKARTA – Untuk kali kesekian, mahasiswa Kampus UPI YAI dan UKI di Jalan Diponegoro, Salemba, Jakarta Pusat, terlibat tawuran. Diduga, bentrok para calon cendekiawan yang kampusnya berseberangan jalan itu terjadi karena pemukulan oleh salah seorang mahasiswa.

Setelah lima peleton polisi dari Polres Jakarta Pusat diturunkan, bentrok baru bisa diredam. Seorang mahasiswa dari UKI yang diduga sebagai pemicu tawuran diamankan polisi.

Perang batu sesama mahasiswa itu membuat sejumlah kios dan bangunan di sekitar lokasi rusak. Selain itu, sebuah Toyota Avanza silver B 2431 IZ milik Bachtiar Amin yang parkir di pinggir jalan rusak parah.

Saat bentrok terjadi, warga sekitar juga cemas. Mereka buru-buru menutup usahanya, takut terkena lemparan. ”Katanya orang berpendidikan, kelakuannya kok seperti preman. Kami yang orang kecil yang sial. Mau buka warung malah dipaksa tutup lagi,” ungkap Siran, warga sekitar .mahasiswa kita calon intelektual tapi kelakuanya kayak preman gak mau ada yang mengalah atau duduk satu meja untuk memecahkan masalah..tar dikit2 demo ..tapi kelakuannya sendiri masih kayak preman..kapan bangsa kita mau maju kalau para penghuninya kelakuanya kayak gitu ..HAI UNTUK PARA MAHASISWA JADIKAN NEGARA KITA INI MAJU ..PEACE AND LOVE  ..by azizinakata(pemuda islam malang cinta damai)

Kasus Ijazah Instan

SURABAYA – Satu per satu polisi menemukan bukti kejanggalan dalam kasus ijazah instan. Setelah menggeledah Kampus Universitas Teknologi Surabaya (UTS) pada Sabtu (11/10), polisi menemukan adanya perbedaan antara nilai dalam transkrip keluaran Unitomo (yang diklaim sebagai modal transfer penuh) dengan terbitan UTS.

Data yang ditemukan polisi menunjukkan bahwa indeks prestasi kumulatif (IPK) yang berlabel Unitomo adalah 3,15. Namun, transkrip yang menyertai ijazah UTS menunjukkan nilai 3,01. Ada satu mata kuliah yang dalam transkrip Unitomo bernilai A, namun di UTS menjadi C.

Fakta tersebut membuat polisi curiga. Apalagi, berdasar pengakuan UTS sebelumnya, transkrip nilai dari Unitomo itu diadopsi secara utuh ke UTS tanpa pernah diverifikasi ke universitas yang bersangkutan. Logikanya, seharusnya IPK antara transkrip di Unitomo dan UTS sama, tidak ada pengurangan.

”Fakta itu jelas menunjukkan ketidakberesan. Tapi, kami harus memastikan lebih dulu letak ketidakberesan tersebut,” tutur salah seorang anggota tim penyidik. Dia menambahkan, letak ketidakberesan itu bisa diketahui setelah polisi mendapatkan kronologi pembuatan transkrip nilai di UTS.

Selain meneliti perbedaan nilai, polisi mulai menelusuri kebenaran dua transkrip nilai yang diklaim UTS menjadi dasar penerbitan ijazah milik Eko. Dua transkrip itu berasal dari program studi D-2 Unesa dan S-1 Unitomo. ”Palsu atau tidaknya dua dokumen itu masih perlu pembuktian dan pemeriksaan saksi-saksi,” ujarnya.

Palsu atau tidaknya dua dokumen tersebut dipastikan membuat penyidikan semakin berkembang. Kalau memang terbukti palsu, polisi punya pekerjaan baru. Yakni, mencari tahu pemalsunya. Kalau asli, polisi akan memanggil Unitomo dan Unesa untuk meminta keterangan. Sebab, Eko (nama mahasiswa yang disebut UTS sebagai pemilik ijazah) sama sekali tak pernah kuliah di dua tempat itu. Dia hanya menyerahkan foto dan uang Rp 8 juta untuk mendapatkan ijazah S-1 Manajemen UTS.

”Kunci untuk mengetahui apakah dokumen itu asli atau palsu adalah dari pejabat yang menandatangani. Bila saksi ahli mengatakan tanda tangan itu identik, jelas bukan palsu dan harus bisa dipertanggungjawabkan,” tegas penyidik.

Di bagian lain, kuasa hukum UTS Moh. Sholeh mengakui adanya perbedaan nilai antara transkrip nilai dari Unitomo dengan terbitan UTS. ”Bu Suhermin (Kajur manajemen yang diperiksa Jumat, 10/10) juga ditanyai soal itu oleh penyidik. Dan memang ada perbedaan nilai,” ungkapnya.

Lebih rinci, dia menjelaskan bahwa ada lima mata kuliah yang berbeda nilai. Pihaknya juga sedang menelusuri siapa yang memasukkan nilai tersebut, sehingga tidak sesuai dengan terbitan Unitomo. ”Bu Suhermin mengaku tidak tahu-menahu soal itu. Tapi, sangat mungkin terjadi karena kecerobohan petugas yang melakukan entry data,” katanya.

Terkait dengan tanda tangan rektor dalam ijazah instan, Sholeh juga menuntut dilakukan uji lab untuk diketahui keabsahannya. ”Berdasar keterangan Bu Suhermin, terbitnya ijazah tersebut tidak sesuai prosedur di UTS. Karena itu, kami meminta dilakukan uji lab untuk melihat apakah tanda tangan rektor asli atau palsu,” ujarnya.

Sementara itu, polisi tetap yakin pihaknya bisa mengusut tuntas kasus jual beli ijazah instan. Bahkan, tak menutup kemungkinan rektor bisa terjerat. ”Prinsipnya, siapa pun yang terlibat akan kami jadikan tersangka,” tegas Kasatreskrim Polwiltabes Surabaya AKBP Syahardiantono.

Apalagi, tanda tangan Yuliati -nama rektor UTS- telah tercantum dalam ijazah serta transkrip nilai. Kendati bisa berkelit bahwa dirinya hanya disodori draf oleh bawahannya, sebagai penanda tangan dan orang nomor satu di institusi tersebut, Yuliati bisa dijerat.

”Namun, kami masih mendalami. Doakan saja semua keterangan dan alat bukti yang kami butuhkan bisa tersedia dalam waktu cepat,” urai perwira dengan dua mawar di pundak tersebut.

Amerika Negeri Islami ?, Oleh Akhmad Kusaeni

indonesia harus bangga memiliki Syamsi Ali, imam asal Bulukumba yang menjadi jurubicara Muslim di Amerika Serikat. Ia adalah penyiar Islam di negara adidaya yang sekarang sedang berperang melawan terorisme, yang celakanya sering dikait-kaitkan dengan Islam.

Syiar Islam dan dakwah ustadz Syamsi Ali (40), tidak terbatas kepada jemaah warga Indonesia saja, melainkan juga muslim Amerika. Khususnya di New York dan Washington DC.
Selain sebagai imam pada Islamic Center, masjid terbesar di New York, Syamsi Ali juga dipercaya menjadi Direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York yang dikelola komunitas Muslim asal Asia Selatan, seperti Bangladesh, Pakistan dan India.

Syamsi berasal dari sebuah desa kecil di Sulawesi Selatan. Kepintarannya berdakwah sudah tampak sejak menjadi santri di pondok pesantren Bulukumba. Ia pergi ke Arab Saudi untuk memperdalam ilmu agama dan ke Pakistan untuk belajar ilmu dunia, sebelum menjadi lokal staf di Perwakilan Tetap RI di New York. Ia mengharumkan citra Islam Indonesia yang moderat dengan pandangan dan aktivitasnya di berbagai forum internasional.

Misalnya saja ia pernah tampil berdakwah di mimbar “A Prayer for America” di Stadion Yankee, kota New York, 23 September 2004. Sekitar 50 ribu orang memadati stadion itu. Tua-muda, lelaki dan perempuan, kulit putih dan kulit hitam, dan pelbagai ras dan bangsa di Amerika “tumplek blek” di situ.

Di panggung, hadir selebritis Oprah Winfrey, mantan Presiden Bill Clinton, senator Hillary Clinton, Gubernur Negara Bagian New York George Pataki, Wali Kota New York Rudolph Giuliani, artis Bette Midler dan penyanyi country Lee Greenwood.  Di New York, statistik menunjukkan terdapat lebih 800.000 kaum Muslimin.

Di podium, Syamsi membacakan dan mengupas surat Al-Hujurat ayat 13 yang intinya bercerita tentang asal-usul manusia yang  dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tidak ada bangsa yang paling tinggi derajatnya, karena yang termulia adalah yang paling bertakwa.
Dengan mengurai makna ayat itu, Syamsi ingin menceritakan kepada publik Amerika bahwa Islam adalah agama yang mengakui persaudaraan umat manusia.

“Islam tak membenci umat lain. Justru Islam datang untuk mengangkat derajat semua manusia,” kata Syamsi Ali berusaha mengurangi kebencian sebagian warga Amerika terhadap Islam pasca serangan teroris 11 September 2001.

Sejak peristiwa itu, semakin banyak orang di Amerika Serikat yang ingin tahu lebih mendalam mengenai Islam. “Inilah tugas kami untuk memberi penjelasan sebenarnya tentang Islam yang rahmatan lil alamin,” katanya