Didemo, KTT G-20 Terancam Deadlock

61136large

Didemo, KTT G-20 Terancam Deadlock

Draf Bocor, Prancis-Jerman Ancam Walkout

LONDON – Tekanan luar biasa mewarnai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di London, Inggris, yang dimulai pukul 17.50 waktu setempat atau pukul 01.50 dini hari WIB tadi. Berbagai peristiwa mengejutkan membuat pertemuan pemimpin 20 negara yang paling berpengaruh di dunia itu terancam gagal mendapat hasil (deadlock).

Sebelum dibuka dengan resepsi oleh Ratu Elizabeth II di Buckingham Palace, kerusuhan sudah pecah di jalan-jalan Kota London kemarin. Sekitar 35 ribu demonstran bergerak menyemut dari Hyde Park. Mereka melempari kaca kantor cabang Royal Bank of Scotland (RBS) dan kantor Bank of England di pusat Kota London, yang merupakan distrik utama keuangan dunia. Gelombang demonstran kedua yang berjumlah sekitar 2.000 orang berkumpul di Kedutaan Amerika, yang juga dijaga ratusan polisi. Aksi anarkis itu membuat polisi Inggris bertindak tegas. Polisi Inggris Scotland Yard mengatakan 23 orang ditahan karena memiliki seragam polisi dan sebelas orang ditangkap karena melukai petugas.

Para pendemo itu marah karena dunia harus ikut menanggung krisis finansial akibat ulah negara maju. Setidaknya, 150 organisasi ikut bergabung, baik dari kelompok amal maupun lingkungan. Mereka menuntut penyelamatan pekerjaan, pengurangan polusi karbon, dan pengetatan sektor finansial. Pengunjuk rasa itu menyebut KTT G-20 sebagai Hari Penipuan Keuangan. Mereka juga menangangkat banner dan membagi-bagikan selebaran yang bertulisan “Kapitalisme Mogok”, “Gantung Banker”, atau “Serbu Bank-Bank”.

Negara-negara kelompok G-20 adalah Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. G-20 dibentuk 1999 sebagai forum dialog negara-negara maju dan negara-negara berkembang dalam rangka mengatasi dampak krisis keuangan Asia akhir dekade 1990-an.

Anggota G-20 mewakili 85 persen kekuatan ekonomi dunia, dua per tiga populasi global, serta lebih dari 80 persen kepemilikan saham dari Bank Dunia dan IMF. Indonesia merupakan satu-satunya negara anggota dari Asia Tenggara. Karena itu, saat krisis global membuat pertumbuhan ekonomi merosot, kelompok G-20 dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Kekacauan di jalanan itu ternyata juga merembet ke arena pertemuan. Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers di Hotel JW Marriott, London, mengungkapkan, komunike bersama pemimpin negara G-20 untuk kali pertama bocor ke media sebelum disepakati. Draf komunike yang bocor itu dimuat oleh surat kabar The Financial Times edisi Selasa (31/3).

Draf komunike yang bocor itu, menurut Menkeu, membuat kecewa Perdana Menteri (PM) Inggris Gordon Brown sebagai tuan rumah. “Cerita sampingan yang menarik dari dinamika ini adalah bocornya komunike. Sumber kebocoran terutama dianggap dari salah satu negara Eropa yang merasa bahwa komitmen dari komunike di draf itu kurang sesuai keinginan mereka,” tutur Sri Mulyani yang juga merangkap Menko Perekonomian.

Akibatnya, kata Menkeu, terjadi perubahan drastis dalam forum G-20 karena pembahasan draf komunike tersebut dimulai dari awal lagi. “Sampai pukul tiga pagi tadi, para deputi masih membahas dan pagi ini dilakukan finalisasi,” ujarnya. Pembahasan ulang draf itu, lanjut Sri Mulyani, dilakukan agar tidak ada kekecewaan dari para pelaku ekonomi di dunia terhadap hasil pertemuan G-20.

Skandal bocornya draf itu memicu perpecahan di negara-negara utama peserta konferensi. Prancis dan Jerman masih belum puas dengan rancangan komunike bersama. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengklaim bahwa negaranya bersama Jerman tidak puas dengan proposal yang saat ini disusun.

Dia mengaku telah berdiskusi dengan Kanselir Jerman Angela Merkel Selasa malam. “Kami sepakat bahwa rancangan terkini komunike bersama yang akan dibacakan pada KTT G-20 belum sesuai dengan harapan,” kata Sarkozy kepada stasiun radio Europe 1.

Sebelum berangkat ke London, Sarkozy sudah bertekad keluar dari KTT bila keluar pernyataan yang tidak memuaskan. Menurut dia, sudah saatnya para pemimpin dunia melalui KTT G-20 mengeluarkan keputusan yang tegas dalam upaya mengatasi krisis keuangan global.

Karena itu, Sarkozy meminta komunike G-20 juga mencantumkan aksi untuk memberlakukan regulasi yang lebih ketat di sektor keuangan dunia, terutama harus lebih intensif menindak negara atau wilayah yang selama ini menjadi tempat penyimpanan dana yang aman bagi para pengemplang pajak.

Didukung Jerman, Prancis menginginkan reformasi dalam norma-norma akuntansi, peraturan atas pemberian bonus bagi para pialang yang memainkan dana dengan risiko tinggi, dan tindakan bagi pengemplang pajak. Menurut Sarkozy, faktor-faktor itulah yang menjadi penyebab parahnya krisis keuangan dunia. Jika tidak ada penanganan serius, maka dia akan melakukan walkout.”Saya tidak akan mau ikut KTT yang main-main, yang hanya menghasilkan kompromi yang semu dan tidak menjawab masalah yang tengah kita hadapi,” kata Sarkozy. Dia pun mengulangi ancaman untuk keluar dari KTT.

Rancangan komunike bersama KTT G-20 yang bocor ke kalangan media massa pekan ini hanya menyebutkan bahwa para pemimpin akan menyerukan “ekonomi global yang terbuka, berdasarkan prinsip-prinsip pasar, aturan yang efektif, dan institusi global yang kuat.”

Menkeu Sri Mulyani menjelaskan, setidaknya sampai sekarang ada dua kelompok yang berseberangan, yaitu yang menginginkan tindakan cepat dan agresif seperti kucuran stimulus fiskal dalam jumlah besar yang diwakili Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang, dan kelompok yang menginginkan langkah lebih hati-hati yang diwakili Jerman dan erancis. “Karena itu, dalam leaders meeting ini akan diusahakan suatu kompromi bahasa yang bisa diterima oleh kedua pemikiran yang memiliki urgensi agak berbeda,” kata Menkeu.

Selain masalah stimulus fiskal, Sri Mulyani menjelaskan, dinamika yang muncul pada pertemuan G-20 adalah kesepakatan tentang koreksi terhadap kegagalan pengawasan dan pengaturan lembaga-lembaga keuangan. Kelompok Jerman dan Prancis, menurut dia, sangat menginginkan komunike yang fokus terhadap koreksi kegagalan pengawasan dan pengaturan lembaga-lembaga keuangan, yang sebagian besar bermarkas di AS.

Pemimpin negara lainnya, termasuk Presiden SBY memilih bungkam dengan ancaman walkout Prancis dan Jerman itu. Sebagian dari mereka menilai meninggalkan pertemuan sebagai ” bukan gagasan terbaik”.

Menyadari hajatan terbesar pemerintahannya terancam, buru-buru PM Gordon Brown sebagai tuan rumah meredakan ketegangan dalam pertemuan itu. “Saya percaya Presiden Sarkozy akan datang pertama saat makan malam dan dia akan tetap ada sampai jamuan usai,” ujar Brown.

Kehadiran Presiden AS Barack Obama yang semula diharapkan membawa angin segar ternyata tidak membawa pengaruh apapun. Bahkan presiden yang pernah membaa harapan perbaikan itu kini menjadi sasaran kecaman dan diperingatkan agar negaranya tidak rakus untuk terus ingin memimpin pertumbuhan ekonomi dunia.

Agenda Presiden SBY

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkeinginan menyampaikan pidato dalam bahasa Indonesia pada KTT G-20 di London yang dimulai hari ini. Ketika berbicara dengan para wartawan di Grosvenor House Hotel JW Marriott, London, kemarin, Presiden mengatakan, kepala negara/pemerintahan yang menghadiri pertemuan G-20 di London pun memilih menggunakan bahasa negara mereka masing-masing, bukan bahasa Inggris. “Angela Merkel (Kanselir Jerman) memakai bahasa Jerman, Sarkozy (Nikolas Sarkozy, Presiden Perancis) memakai bahasa Perancis,” tutur Presiden.

Begitu pula, kata dia, Presiden Brasil Lula Da Silva menggunakan bahasa Portugis, Presiden Hu Jintao memakai Bahasa Tiongkok, dan Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak memilih bahasa asal mereka masing-masing. “Namun, jika saya memakai bahasa Indonesia, mungkin hanya Presiden Obama yang mengerti,” kata SBY dengan nada bercanda.

Apa yang akan disampaikan presiden ? SBY mengatakan akan menyerukan para pemimpin G-20 agar tak mengabaikan negara-negara berkembang dalam upaya mereka mengatasi krisis keuangan global. Saat berbicara di London School of Economics, kemarin, SBY memperingatkan dunia tidak akan pulih dari krisis keuangan global apabila negara-negara industri maju kembali ke proteksionisme.

Presiden SBY menekankan negara industri maju mengalami kerugian terbesar setelah berjuang keras membenahi perekonomian mereka dan seharusnya “tidak membiarkan diri terperosok ke dalam kesulitan lebih jauh.”

Negara-negara berkembang, ujar SBY, menderita akibat pembatasan kredit dan arus investasi asing yang dibutuhkan untuk tetap menggerakkan roda ekonomi di tengah melambungnya tingkat suku bunga. Negara-negara miskin terpuruk akibat berjatuhannya sejumlah harga komoditas pertambangan dan pertanian yang menjadi sumber lahan pencaharian saat bantuan asing menyusut.

Hari ini, Presiden SBY menghadiri sarapan bersama dengan kepala negara/pemerintahan kelompok G-20 lalu mengikuti foto bersama. Pada momen dinner meeting, SBY akan bersebelahan dengan Obama. Menurut juru bicara kepersidenan Dino Patti Djalal, dalam acara makan malam tersebut akan dimanfaatkan oleh SBY dan Obama untuk membicarakan masalah-masalah strategis yang dihadapi oleh kedua bangsa. (AP/Rtr/jpnn/kim)

Tag:,

About zee sinon

PEACE AND LONE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s