Alamak… Si Dia Kok Dingin?

SURABAYA | SURYA Online – Menjaga keintiman dan kemesraan dengan pasangan adalah salah satu kunci memelihara keutuhan dan membuat pernikahan bahagia. Begitu yang sering kita baca di artikel-artikel di majalah atau yang disarankan konsultan pernikahan. Lantas bagaimana jika pasangan kita sebeku es alias frigid?

Yang pasti itu adalah bencana yang mengancam pernikahan, cepat atau lambat. Boro-boro mau berhubungan intim, diajak bermesraan saja pasangan sudah emoh dan menjauh. “Tolong saya, dong, pasangan saya frigid,” begitu bunyi sms seorang rekan pria kepada X-Fe –pengsuh rubrik Xtra-Life Harian Surya– lewat sms.
frigid-150x150
Pasangan frigid tidak hanya bikin pria puyeng tapi juga kaum Hawa yang mengalaminya. Seperti yang dialami Hanida, perempuan berusia 26 tahun, karyawan swasta di Surabaya dan baru enam bulan menikah. Hanida mengaku merasa stres setiap kali sang suami yang berbeda usia 12 tahun darinya mengajaknya berhubungan intim.

Hanida heran, sejak berhubungan intim dengan sang suami pertama kali (di malam pertama pengantin), Hanida mengaku tidak merasakan kenikmatan seperti yang diceritakan teman-temannya yang sudah menikah. Bahkan, setelah berhubungan intim, Hanida merasakan kesakitan di perut bagian bawah seperti kram dan ditusuk-tusuk.

“Kalau grogi aku kira semua perempuan yang baru pertama berhubungan pasti juga begitu. Aku sudah coba santai dan menikmati tapi, kok tetap nggak bisa?” tanyanya keheranan.

Alhasil, sampai saat ini Hanida mengaku belum pernah merasakan apa itu orgasme. Boro-boro orgasme, untuk memulai berhubungan saja Hanida lebih banyak enggan dan keluar keringat dingin seperti saat dirinya mau menghadapi sidang skripsi semasa kuliah dulu. Belum lagi dirinya suka kecapekan karena kerja sehingga frekuensi berhubungan intim dengan sang suami kian lama kian jarang.

Pratama, 35, seorang supervisor di perusahaan retail, lain lagi. Ia mengaku frigid hanya dengan istrinya, Ratih, 30. Jika dengan perempuan lain yang jauh berperawakan lebih berisi (montok) dan segar, sebaliknya, ia langsung bergairah.

Alasannya, karena tubuh sang istri yang makin kurus sejak melahirkan anak pertama mereka setahun lalu. “Sebelum nikah, sih saya suka istri langsing tapi kok sekarang tambah kurus dan nggak menarik lagi,” ujar Pratama, yang sudah menikah selama tiga tahun.

Tak Selalu Faktor Hormonal
Banyak pasangan menikah yang tidak tahu bagaimana cara mengatasi masalah frigiditas ini. Orang awam biasanya menyebut faktor hormonal yang menjadi pemicu terjadinya gangguan libido. Selain itu, kaum perempuanlah yang dituding sebagai yang paling sering frigid.

Susan Aldridge PhD, konsultan dan penulis artikel kesehatan di situs healthandage.com (pusat konsultasi seksual dan usia), hilangnya libido baik pada laki-laki dan perempuan tidak selalu berhubungan langsung dengan kondisi hormonal. Memang pada perempuan pra-menopause terjadi penurunan libido karena menurunnya hormon estrogen tapi jika terjadi bukan pada usia pra-menopause, tentu penyebabnya lain.

Dikutip dari Journal of Sex & Marital Therapy edisi January 2005, dari para pasien yang mengikuti konselingnya, Susan Aldridge menyimpulkan ada beberapa penyebab seseorang mengalami penurunan libido hingga menjadi frigid, yaitu depresi, tekanan ekonomi sehari-hari, sakit tertentu, dan masalah seksual dengan pasangan.

Yang terbanyak adalah adanya gangguan hubungan dengan pasangan, antara lain pasangan suka memaksakan kehendak saat berhubungan, kurang pemanasan, tidak mencintai pasangan, hingga trauma pengalaman seksual masa lalu semisal karena mengalami pelecehan seksual. Jika demikian yang dibutuhkan adalah terapi psikologis atau kejiwaan.

Menurut ahli kejiwaan dari RSU Dr Soetomo Surabaya, dr Didi Aryono Budiyono SpKJ, penurunan libido adalah tahap awal terjadinya frigiditas jika pasien tak segera mendapat pertolongan medis atau psikologis. Frigiditas atau hilangnya sama sekali hasrat seksual yang merupakan naluri normal manusia, bisa dialami pria maupun wanita. Pada wanita istilahnya frigid dan pada pria istilahnya hiposeksualisme.

“Potensi mengalami kehilangan hasrat seksual sama saja antara pria dan wanita. Bisa sembuh atau tidak tergantung penyebab utamanya apa dan terapi yang tepat untuk itu,” papar Didi Aryono, yang menjabat sebagai humas Perhimpunan Spesialis Kedokteran Jiwa di Surabaya.

Ada faktor primer dan sekunder yang bisa menimbulkan frigiditas. Faktor primer atau dari dalam diri seseorang, misalnya terjadi karena adanya suatu penyakit (diabetes). Faktor sekunder, biasanya ini sumber yang terbanyak, semisal karena pengetahuan seksual yang minimal, atau trauma seksual.

Pengobatan bisa dilakukan dengan melihat faktor penyebabnya. Jika karena gangguan hormonal, bisa dilakukan terapi hormon. Namun apabila karena faktor sekunder, bisa dilakukan terapi perilaku (behaviour therapy), yaitu dengan memberikan pengetahuan atau peningkatan aspek kognitif terhadap fungsi-fungsi seksual.

Didi menambahkan, keluhan tentang frigiditas yang paling banyak muncul pada dasarnya karena faktor budaya. Budaya ketimuran yang masih menganggap hal-hal yang berbau seksual itu tabu, membuat penyaluran informasi seputar pengetahuan seksual sangat rendah. Akibatnya, timbul pandangan jika seks itu identik dengan sesuatu yang kotor dan hina. dta

Tag:, , , , , , , , ,

About zee sinon

PEACE AND LONE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s