Buru Donatur, Muhammad Jibril Diinterogasi secara Mobile

Polisi Siap Lepas setelah Tujuh Hari
87610large
JAKARTA – Penyidikan polisi terkait dengan pendanaan operasi teror bergulir cepat setelah Muhamad Jibril diringkus. Densus 88 Mabes Polri berharap jejak syekh asal Timur Tengah yang diduga sebagai donatur pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton bisa terlacak. Karena itu, Jibril diinterogasi secara mobile (berkeliling) kemarin (26/8).

”Penyidikan masih dikembangkan, terutama pada kronologi kedatangan seorang syekh ke Indonesia,” kata seorang sumber Jawa Pos kemarin.

Jibril disergap petugas Densus 88 pada Selasa (25/8) saat hendak pulang ke rumah orang tuanya, Abu Jibril, di Pamulang, Tangerang.

Seharian kemarin, Jibril dibawa ke berbagai lokasi di sekitar Ja­kar­ta. ”Ke Bandara dan ke Be­­kasi,” katanya lantas menolak menyebutkan detail tujuan.

Jibril dianggap mengetahui kedatangan donatur operasi teroris itu ke Indonesia pada Juni lalu. ”Tapi, ke­terangannya masih berbelit-belit. Berulang-ulang ditanya sering me­ngaku lupa,” ungkap sumber itu.

Polisi juga berusaha mencari jejak-jejak dokumen berupa surat, fotokopi, tiket, atau bill kamar hotel. ”Kami menemukan beberapa yang signifikan di kantor tersangka (Arrahmah Media, tempat Jibril tinggal, Red). Tapi, belum bisa saya sampaikan,” ujarnya.

Jika dalam jangka tujuh hari peran Jibril dalam operasi teror Marriott 17 Juli lalu tak bisa dibuktikan, polisi pasti akan melepas dia. ”Kami tak mau melanggar hukum. Tapi, kami efektifkan sisa waktu yang ada,” tegasnya.

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna mengamini per­nyataan itu. ”Berdasar UU Antiteroris, polisi punya hak menangkap dan memeriksa se­seorang dalam tuduhan terlibat aksi terorisme. Jika dalam 7 x 24 jam tidak terbukti, akan dilepas,” ungkapnya kepada wartawan kemarin.

Dia juga membantah kabar bah­wa Jibril sebenarnya ditangkap lebih dulu sebelum ditetapkan sebagai DPO oleh polisi. ”Tolong cermati ya, pengumumannya itu pukul 13.00 siang, dia ditangkap pukul 15.00 sore. Jadi, kami memang mencari di alamat sebelumnya, tapi tidak ketemu. Karena itu, kami umumkan,” tegasnya.

Penangkapan Jibril yang tanpa disertai surat penangkapan tersebut direaksi keras keluarganya. Kemarin (26/8), Abu Jibril, ayah Jibril, mengadakan jumpa pers di Masjid Al Munawwaroh, Pamulang, dekat tempat tinggalnya. Dalam pertemuan itu, sekitar 100 anggota pengajian Ar Royan yang dikelola Abu Jibril ikut hadir.

Pria yang juga punya nama Mohammad Iqbal itu menilai, penangkapan anaknya tersebut merupakan aksi kalap aparat kepolisian. Mereka menangkap pelaku tanpa bukti-bukti kuat, bahkan penangkapan itu tidak manusiawi. ”Dia itu belum terbukti sebagai penjahat, tapi ditindak layaknya penjahat. Badannya ditelungkupkan di aspal. Ka­ki polisi itu menginjak punggung anak saya,” ujarnya.

Menurut dia, polisi mulai tidak bisa berpikir logis untuk menyelesaikan kasus teroris ini. Setiap kelompok Islam yang dianggap berbeda dari pemerintah dianggap radikal serta berbahaya.

Pemikiran tersebut, kata Abu Jibril, telah meracuni aparat kepolisian. Secara serampangan mereka menangkap tanpa prosedur, bahkan membawa ke taha­nan dengan alasan tidak jelas. ”Kemarin, saya minta bertemu anak saya, tapi dijawab tidak tahu oleh Kadivhumas Polri. Masak ada polisi menangkap, tapi tidak tahu di mana tahanannya,” katanya penuh kesal.

Saat ditanya soal kedekatan Jibril dengan Noordin M. Top, Abu Jibril mengaku tak tahu persis. Tapi, Noordin memang merupakan dosen putranya saat belajar di Malaysia. ”Kalau itu yang jadi alasan penangkapan, sangat tidak tepat. Guru belum tentu sama dengan muridnya,” tegasnya.

Menurut Abu, Noordin bisa saja menjadi pelaku teroris. Tapi, Jibril tidak mungkin melakukan tindakan tersebut, apalagi tuduhan menggalang dana bagi terorisme. ”Makan dan minum saja masih ditanggung orang tua. Masak mau mikirin yang lain? Dia itu masih minta jajan sama saya,” ujarnya.

Ditambah, personel Densus 88 ikut menggeledah kediamannya di Witanaharja, Pamulang. Enam anggota Densus 88 yang menggeledah itu berhasil membawa dua laptop dan sejumlah kaset dakwah. Aksi tersebut dimulai pukul 24.00-03.00. ”Saya sempat memprotes penggeledahan itu. Sebab, petugas mencari kamar tidur anak saya,” jelas Abu.

Dia menambahkan, penggeledahan tersebut tidak sesuai pro­sedur. Lokasi yang dituju tidak sama dengan alamat surat penggeledahan. ”Anak saya tidak lagi tinggal di sini. Dia sudah hidup sendiri,” tegasnya.

Para anggota Densus 88 itu, kata Abu, tidak peduli terhadap penjelasan tersebut. Penggeledahan tetap dilanjutkan. Semua ruang dalam rumah digeledah paksa. Hanya kamar tidur utama yang tidak diperiksa. Barang yang dibawa Densus 88, lanjut dia, adalah barang milik tamu dan anaknya.

Kemarin petang, Abu Jibril juga kembali mendatangi Bareskrim Mabes Polri. Dia mengaku membawa baju dan obat-obatan untuk anaknya. Sempat menunggu dua jam, dia pulang dengan tangan hampa. ”Kata orang Densus, dia tak bisa ditemui. Masih dibawa ke suatu tempat untuk pengembangan,” ungkapnya.

Hari ini, Abu dan pengurus Majelis Mujahidin Indonesia akan menemui Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri. ”Saya akan menanyakan soal anak saya yang ditangkap tanpa prosedur,” tegasnya.

Pengacara Abu Jibril, Yusuf Sembiring, juga akan mengajukan gugatan praperadilan. Keluarga Abu Jibril beralasan bahwa polisi telah menyimpang dari KUHP dalam penangkapan yang tidak diikuti pemberitahuan kepada keluarga. ”Semua harus tunduk pada KUHP,” ujarnya.

Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, sejumlah pihak akan mengadakan tablig akbar di berbagai kota mulai Jumat besok. Di Jogjakarta, misalnya, akan ada konsentrasi massa pada 30 Agustus nanti. Isu yang akan diusung adalah mengkritik tindakan polisi yang dinilai asal tangkap.

Di Jakarta, setelah salat Jumat, akan diadakan sebuah aksi massa. Estimasi jumlah yang mendukung sikap Abu Jibril dan keluarganya itu mencapai 3.000 orang.

Bagi sejumlah anggota JI, nama Muhamad Jibril tidak asing lagi. Pemuda itu ”gaul” dengan orang-orang Jamaah Islamiyah (JI) sejak 1993. Bahkan, dia secara personal kenal dengan Noordin M. Top, buron yang paling dicari saat ini.

Menurut seorang sumber dari kalangan internal JI, Jibril merupakan salah seorang santri di Pondok Luqmanul Hakim, Johor, 1993. Dia ditangkap dan baru keluar penjara pada 2001 dengan tuduhan yang tak pernah bisa dibuktikan.

Kemudian, dia pergi ke Pakis­tan. Kendati tidak ada yang bisa memastikan apa aktivitasnya di sana, sekitar 2003, Jibril ditangkap pemerintah Pakistan dan dideportasi ke Indonesia.

”Diduga kuat, dia berhubungan erat dengan Al Qaidah dan peme­rintah Pakistan menemukan ke­terkaitannya. Karena itu, dia dideportasi,” tutur seorang anggota senior JI yang tak mau namanya di­sebutkan tersebut. Selain itu, Jibril tak asing dengan kelompok militan.

”Dia (Jibril, Red) mempunyai kaitan erat dengan Ali. Dia terbiasa membangun lobi di kalangan ke­lompok militan luar nege­ri,” ucap seorang sumber di kepolisian.

Sumber tersebut meyakini bahwa Jibril bukan dari kalangan ”operasional”, yakni perencana maupun ek­sekutor bom. ”Dia tak punya ke­mampuan itu. Tapi, dia mempunyai jaringan yang amat luas. Di sanalah dia berperan,” imbuhnya.

Sumber tersebut juga meng­ungkapkan, berdasar catatan po­lisi, memang belum ditemukan keterkaitan Jibril dengan bom-bom terdahulu. Mulai bom Bali I (2002) hingga bom Bali II (2005). ”Namun, tidak berarti dia tak terkait. Kami hanya belum mene­mukan kaitannya,” ujarnya. (rdl/ano/rko/jpnn/iro)

Iklan

Tag:,

About zee sinon

PEACE AND LONE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s